hehehehehe... Adek gue paling bungsu nieee... cieeee cieee cieee..
5 Desember 2013
2 Desember 2013
Dusta [Bohong] adalah Penyakit Kronis Yang Sulit Disembuhkan
”Tidaklah ada akhlaq yang lebih dibenci oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam daripada dusta…”(Shahih, lihat Silsilah ash-Shahihah 2052)
Sesungguhnya dusta adalah penyimpangan akhlaq, dia adalah salah satu akhlak/perilaku yang paling buruk, dan sifat yang tercela. Ia menjadikan manusia seperti binatang yang tidak bisa diambil faidah dari ucapannya, bahkan binatang tidak berbahaya ucapannya, sedangkan para pendusta bisa menimpakkan bahaya dengan ucapannya.
Maka dari sisi ini binatang lebih baik dari pendusta. Dan dusta termasuk perilaku orang-orang munafik dan perilaku yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Barang siapa yang terbiasa dengannya, dia dicatat di sisi Allah sebagai “Kadzdzab”(orang yang banyak berdusta) dan dusta menjerumuskannya ke dalam keburukan. Berbeda dengan orang yang jujur dan berusaha untuk senantiasa jujur, maka kejujurannya akan menunjukkan ke pada jalan-jalan kebaikan, dan dia dicatat di sisi Allah sebagai”Shiddiq”(orang yang jujur). Maka setiap kali dia akan melakukan kesalahan, dia teringat bahwasanya orang-orang akan bertanya kepadanya:”Apakah engkau melakukannya (dosa)?” sedangkan dia tidak mungkin untuk berbohong,maka dia terhindar dari perkara-perkar buruk karena kejujurannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
”Jauhilah oleh kalian dusta, karena dusta menjerumuskan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa mejerumuskan kepada Neraka. Dan sesungguhnya seseorang berdusta, dan membiasakan diri dengannya sehingga dicatat di sisi Allah sebagai “Kadzdzab”. Dan hedaklah kalian bersikap jujur, karena kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkan kepada Surga. Dan sesungguhnya seorang laki-laki bersikap jujur dan bersungguh-sungguh untuk jujur, sehingga dicatat di sisi Allah sebagai ”Shiddiq”.” (Shahih, riwayat Imam al-Bukhari dan imam Muslim dengan sedikit perbedaan redaksi. Lihat Mukhtashar Shahih Muslim 1809, Shahih al-Jami’ 4071)
Maka betapa indahnya sifat ini (jujur) dan betapa besarnya manfaat yang diperolehnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengancam para pendusta dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam al-Qur’an adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
”Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampui batas lagi pendusta.” (QS. Ghafir (al-Mu’min):28)
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
”Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdusta.” (QS. Al-Jatsiyah: 7)
Dan dari hadits adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
”Jauhilah oleh kalian dusta, karena dusta menjerumuskan kepada perbuatan dosa, dam perbuatan dosa mejerumuskan kepada Neraka. Dan sesungguhnya seseorang berdusta, dan membiasakan diri dengannya sehingga dicatat di sisi Allah sebagai “Kadzdzab”. Dan hedaklah kalian bersikap jujur, karena kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkan kepada Surga. Dan sesungguhnya seorang laki-laki bersikap jujur dan bersungguh-sungguh untuk jujur, sehingga dicatat di sisi Allah sebagai ”Shiddiq”.” (Shahih, riwayat Imam al-Bukhari dan imam Muslim dengan sedikit perbedaan redaksi. Lihat Mukhtashar Shahih Muslim 1809, Shahih al-Jami’ 4071)
Dusta adalah sember segala keburukan, oleh sebab itu Syari’at mengharamkannya dan mengancam pelakunya dengan berbagai hukuman, dikarenakan apa yang terkumpul di dalamnnya berupa bahaya-bahaya yang besar dan keburukan-keburukan yang banyak. Di antara keburukan-keburukan itu adalah:
1. Rusaknya reputasi pelakunya.
2. Jatuh kehormatannya.
3. Hilangnya akhlaq, maka dia tidak dipercaya dan tidak diterima persaksiannya. Tidak bisa dipegang janji dan kesepakatannya. Maka jadilah pembicaraan-pembicaraanya tak karuan dan menjengkelkan orang, sia-sia dan justru memalukan.
4. Lemahnya kepercayaan (sikap saling percaya) di antara sesama manusia. Dan goncanglah tatanan masyarakat islam dan hal itu tidak bisa dielakkan.
Kadang kala seseorang terbiasa berdusta karena faktor ketidak tahuan, atau keterbelakangan lingkungan….atau karena lemah agamanya!!! Dan ini adalah musibah besar. Dan sikap tamak (rakus) adalah salah satu faktor pendorong terkuat untuk berdusta dan memalsu, dalam rangka meralisasikan ketamakannya dan mengenyangkan rakusnya.
Bentuk-bentuk dusta
Bentuk-bentuk dusta dan keburukannya bertingkat-tingkat, sesuai dengan tingkat perbedaan bahaya dan dampak buruknya.
Pertama: Sumpah dusta
Ini adalah seburuk-buruk bentuk kedustaan, dan paling besar bahaya dan dosanya. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:
Dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda:”Dosa-dosa besar adalah syirik (menyekutukan Allah), durhaka kepada orang tua, membunuh, dan sumpah yang membinasakan (palsu).
Dan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata:
”Kami menganggap bahwa salah satu dosa yang tidak ada kafarat (tebusannya) adalah ”Yamin Ghamus”” dikatakan kepada beliau:’Apa yang dimaksud dengan”Yamin Ghamus”?” Beliau menjawab:”seseorang mengambil harta orang lain dengan sumpahnya.” (HR. al-Hakim dan dia berkata shahih, berdasarkan syarat keduanya (Bukhari dan Muslim))
Dan dengan hadits ini jelaslah bahaya ”Yamin Ghamus”.
Kedua: Persaksian palsu
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
”Dan jauhilah oleh kalian perkataan dusta”(al-Hajj: 30)
Oleh sebab itu Imam Thabrani meriwayatkan dan al-Kabir secara mauquf terhadap Ibnu Mas’ud dengan sanad hasan, beliau berkata:”Persaksian palsu setara (dosanya) dengan syirik, dan beliau membaca firman Allah di atas.
Dan dari Anas radhiyallahu 'anhu berkata:”Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan dosa-dosa besar, maka beliau berkata:
’Menyekutukan Allah (syirik), durhaka kepada kedua orang tua, dan membunuh.” Kemudian beliau berkata:’Apakah kalian mau aku beritahukan tentang dosa besar yang paling besar, yaitu perkataan dusta’. atau beliau berkata:’sumpah palsu’. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ketiga: Dusta
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa para pendusta tidak akan beruntung. Dia berfirman:
”Katakanlah:"Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung". (QS. Yunus: 69)
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:
”Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta,” (QS.an-Nahl: 105)
Dan siapakah yang lebih jujur perkataannya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala
Dan tidak diragukan lagi bahwa dusta adalah akhlaq rendah dan hina yang merusak rasa aman di dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagian manusia telah menjadikan dusta sebagai senjata bagi mereka untuk tidak menunjukkan jatidirinya yang sebenarnya di hadapan orang lain yang ditipunya. Dan itu adalah penyakit yang berbahaya yang bisa menjerumuskan pelakunya kedalam kebinasan di akherat dan kehinaan di dunia. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
”Tidaklah ada akhlaq yang lebih dibenci oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam daripada dusta…”(Shahih, lihat Silsilah ash-Shahihah 2052)
Dan juga sebagaimana telah diketahui bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah banyaknya kedustaan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
”Tidak terjadi hari kiamat hingga muncul banyak fitnah, banyak kedustaan-kedustaan, berdekatannya pasar-pasar, berdekatannya zaman dan banyaknya al-Harj.”Dikatakan:’Dan apa al-harj?’ beliau menjawab:”pembunuhan” (Silsilah ash-Shahiha 2772)
Maka sebagai orang yang berakal tentunya sudah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk meniggalkan akhlaq yang buruk ini.
Dusta yang diperbeolehkan.
Dusta memang haram dan tidak diperbolehkan, hanya saja ada kondisi-kondisi tertentu di mana saat itu diperbolehkan. Kondisi itu di mana manfaat/ maslahat yang didapatkan dari dusta lebih besar daripada bahaya/mudharat yang ditimbulkan, maka saat itu pelakunya tidak tercela di hadapan manusia karena kedustaan di situ adalah kebaikan bukan sebuah keburukan dan sebagai bentuk perbaikan bukan perusakan. Kondisi-kondisi tersebut adalah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut:
”Tidak dibenarkan berdusta kecuali dalam tiga hal:”Seorang laki-laki yang berbicara kepada istrinya, dusta dalam peperangan dan dusta untuk memperbaiki hubungan manusia (yang sedang berseteru).”(HR. at_tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah)
Sesunguhnya dusta yang boleh di antara suami istri adalah yang bisa memperbaiki hubungan dan menyenagnkan hati, seperti seorang suami yangmengatakan kepada istrinya:”Aku mencintaimu, engkau sangat berharga bagiku, dan engkau cantik tidak ada yang lebih cantik cari engkau.” Dan sang istri pun berkata demikian juga kepada suaminya. Maka tidak diragukan lagi bahwa dusta yang seperti ini manfaatnya lebih besar, dan di dalamya ada upaya perbaikan dalam hubungan rumah tangga, dan hal itu tidak bisa tercapai kecuali dengan dusta. Seandainya semua suami yang kurang senang dengan istrinya terus terang dan jujur terhadapnya, tentu akan hancurlah keluarga tersebut, dan kehancuran tersebut akan membawa dampak kepada keburukan yang sangat banyak, dan akhir yang menyakitkan.
Kemudia kedustaan kedua yang diperbolehkan adalah kedustaan dalam peperangan, seandainya seorang muslim jujur kepada musuhnya dalam peperangan, maka kejujuran tersebut terhitung sebagai sebuah kelemahan dan sikap pengecut, disamping hal itu akan menimbulkan bahaya yang besar terhadap Islam dan kaum muslimin.Wallahu A'lam.
Sesungguhnya dusta adalah penyimpangan akhlaq, dia adalah salah satu akhlak/perilaku yang paling buruk, dan sifat yang tercela. Ia menjadikan manusia seperti binatang yang tidak bisa diambil faidah dari ucapannya, bahkan binatang tidak berbahaya ucapannya, sedangkan para pendusta bisa menimpakkan bahaya dengan ucapannya.
Maka dari sisi ini binatang lebih baik dari pendusta. Dan dusta termasuk perilaku orang-orang munafik dan perilaku yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Barang siapa yang terbiasa dengannya, dia dicatat di sisi Allah sebagai “Kadzdzab”(orang yang banyak berdusta) dan dusta menjerumuskannya ke dalam keburukan. Berbeda dengan orang yang jujur dan berusaha untuk senantiasa jujur, maka kejujurannya akan menunjukkan ke pada jalan-jalan kebaikan, dan dia dicatat di sisi Allah sebagai”Shiddiq”(orang yang jujur). Maka setiap kali dia akan melakukan kesalahan, dia teringat bahwasanya orang-orang akan bertanya kepadanya:”Apakah engkau melakukannya (dosa)?” sedangkan dia tidak mungkin untuk berbohong,maka dia terhindar dari perkara-perkar buruk karena kejujurannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
« إياكم
والكذب فإن الكذب يهدي إلى الفجور ، وإن الفجور يهدي إلى النار ، وإن
الرجل ليكذب ، ويتحرى الكذب ، حتى يكتب عند الله كذابا ، وعليكم بالصدق ،
فإن الصدق يهدي إلى البر ، وإن البر يهدي إلى الجنة ، وإن الرجل ليصدق
ويتحرى الصدق ، حتى يكتب عند الله صديقا » ( صحيح ) _ وأخرج البخاري ومسلم
نحوه ، مختصر صحيح مسلم 1809 ، صحيح الجامع 4071 .
”Jauhilah oleh kalian dusta, karena dusta menjerumuskan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa mejerumuskan kepada Neraka. Dan sesungguhnya seseorang berdusta, dan membiasakan diri dengannya sehingga dicatat di sisi Allah sebagai “Kadzdzab”. Dan hedaklah kalian bersikap jujur, karena kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkan kepada Surga. Dan sesungguhnya seorang laki-laki bersikap jujur dan bersungguh-sungguh untuk jujur, sehingga dicatat di sisi Allah sebagai ”Shiddiq”.” (Shahih, riwayat Imam al-Bukhari dan imam Muslim dengan sedikit perbedaan redaksi. Lihat Mukhtashar Shahih Muslim 1809, Shahih al-Jami’ 4071)
Maka betapa indahnya sifat ini (jujur) dan betapa besarnya manfaat yang diperolehnya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengancam para pendusta dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam al-Qur’an adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
« إن الله لا يهدي من هو مسرف كذاب » (غافر: 28.)
”Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampui batas lagi pendusta.” (QS. Ghafir (al-Mu’min):28)
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
« ويل لكل أفاك أثيم » (الجاثية:7).
”Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdusta.” (QS. Al-Jatsiyah: 7)
Dan dari hadits adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
« إياكم
والكذب فإن الكذب يهدي إلى الفجور ، وإن الفجور يهدي إلى النار ، وإن
الرجل ليكذب ، ويتحرى الكذب ، حتى يكتب عند الله كذابا ، وعليكم بالصدق ،
فإن الصدق يهدي إلى البر ، وإن البر يهدي إلى الجنة ، وإن الرجل ليصدق
ويتحرى الصدق ، حتى يكتب عند الله صديقا » ( صحيح ) _ وأخرج البخاري ومسلم
نحوه ، مختصر صحيح مسلم 1809 ، صحيح الجامع 4071 .
”Jauhilah oleh kalian dusta, karena dusta menjerumuskan kepada perbuatan dosa, dam perbuatan dosa mejerumuskan kepada Neraka. Dan sesungguhnya seseorang berdusta, dan membiasakan diri dengannya sehingga dicatat di sisi Allah sebagai “Kadzdzab”. Dan hedaklah kalian bersikap jujur, karena kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkan kepada Surga. Dan sesungguhnya seorang laki-laki bersikap jujur dan bersungguh-sungguh untuk jujur, sehingga dicatat di sisi Allah sebagai ”Shiddiq”.” (Shahih, riwayat Imam al-Bukhari dan imam Muslim dengan sedikit perbedaan redaksi. Lihat Mukhtashar Shahih Muslim 1809, Shahih al-Jami’ 4071)
Dusta adalah sember segala keburukan, oleh sebab itu Syari’at mengharamkannya dan mengancam pelakunya dengan berbagai hukuman, dikarenakan apa yang terkumpul di dalamnnya berupa bahaya-bahaya yang besar dan keburukan-keburukan yang banyak. Di antara keburukan-keburukan itu adalah:
1. Rusaknya reputasi pelakunya.
2. Jatuh kehormatannya.
3. Hilangnya akhlaq, maka dia tidak dipercaya dan tidak diterima persaksiannya. Tidak bisa dipegang janji dan kesepakatannya. Maka jadilah pembicaraan-pembicaraanya tak karuan dan menjengkelkan orang, sia-sia dan justru memalukan.
4. Lemahnya kepercayaan (sikap saling percaya) di antara sesama manusia. Dan goncanglah tatanan masyarakat islam dan hal itu tidak bisa dielakkan.
Kadang kala seseorang terbiasa berdusta karena faktor ketidak tahuan, atau keterbelakangan lingkungan….atau karena lemah agamanya!!! Dan ini adalah musibah besar. Dan sikap tamak (rakus) adalah salah satu faktor pendorong terkuat untuk berdusta dan memalsu, dalam rangka meralisasikan ketamakannya dan mengenyangkan rakusnya.
Bentuk-bentuk dusta
Bentuk-bentuk dusta dan keburukannya bertingkat-tingkat, sesuai dengan tingkat perbedaan bahaya dan dampak buruknya.
Pertama: Sumpah dusta
Ini adalah seburuk-buruk bentuk kedustaan, dan paling besar bahaya dan dosanya. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:
عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : « الكبائر الإشراك بالله وعقوق الوالدين وقتل النفس واليمين الغموس » ،
Dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda:”Dosa-dosa besar adalah syirik (menyekutukan Allah), durhaka kepada orang tua, membunuh, dan sumpah yang membinasakan (palsu).
وعن ابن
مسعود رضي الله عنه قال كنا نعد من الذنب الذي ليس له كفارة اليمين الغموس
قيل وما اليمين الغموس قال الرجل يقتطع بيمينه مال الرجل رواه الحاكم وقال
صحيح على شرطهما .
Dan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata:
”Kami menganggap bahwa salah satu dosa yang tidak ada kafarat (tebusannya) adalah ”Yamin Ghamus”” dikatakan kepada beliau:’Apa yang dimaksud dengan”Yamin Ghamus”?” Beliau menjawab:”seseorang mengambil harta orang lain dengan sumpahnya.” (HR. al-Hakim dan dia berkata shahih, berdasarkan syarat keduanya (Bukhari dan Muslim))
Dan dengan hadits ini jelaslah bahaya ”Yamin Ghamus”.
Kedua: Persaksian palsu
Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
((واجتنبوا قول الزور))( الحج:30).
”Dan jauhilah oleh kalian perkataan dusta”(al-Hajj: 30)
Oleh sebab itu Imam Thabrani meriwayatkan dan al-Kabir secara mauquf terhadap Ibnu Mas’ud dengan sanad hasan, beliau berkata:”Persaksian palsu setara (dosanya) dengan syirik, dan beliau membaca firman Allah di atas.
وعن أنس
رضي الله عنه قال ذكر رسول الله صلى الله عليه وسلم الكبائر فقال الشرك
بالله وعقوق الوالدين وقتل النفس وقال ألا أنبئكم بأكبر الكبائر قول الزور
أو قال شهادة الزور .رواه البخاري ومسلم »
Dan dari Anas radhiyallahu 'anhu berkata:”Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan dosa-dosa besar, maka beliau berkata:
’Menyekutukan Allah (syirik), durhaka kepada kedua orang tua, dan membunuh.” Kemudian beliau berkata:’Apakah kalian mau aku beritahukan tentang dosa besar yang paling besar, yaitu perkataan dusta’. atau beliau berkata:’sumpah palsu’. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ketiga: Dusta
Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan bahwa para pendusta tidak akan beruntung. Dia berfirman:
ومن أصدق من الله حديثاً : « قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ (يونس : 69 ) »
”Katakanlah:"Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung". (QS. Yunus: 69)
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:
« إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللّهِ وَأُوْلـئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ (النحل : 105 ) »
”Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta,” (QS.an-Nahl: 105)
Dan siapakah yang lebih jujur perkataannya dari Allah Subhanahu wa Ta'ala
Dan tidak diragukan lagi bahwa dusta adalah akhlaq rendah dan hina yang merusak rasa aman di dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagian manusia telah menjadikan dusta sebagai senjata bagi mereka untuk tidak menunjukkan jatidirinya yang sebenarnya di hadapan orang lain yang ditipunya. Dan itu adalah penyakit yang berbahaya yang bisa menjerumuskan pelakunya kedalam kebinasan di akherat dan kehinaan di dunia. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
« ما كان خلق أبغض إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم من الكذب… »
”Tidaklah ada akhlaq yang lebih dibenci oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam daripada dusta…”(Shahih, lihat Silsilah ash-Shahihah 2052)
Dan juga sebagaimana telah diketahui bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah banyaknya kedustaan.
عن أبي
هريرة قال رسول الله : « لاتقوم الساعة حتى تظهر الفتن ، ويكثر الكذب ،
وتتقارب الأسواق ، ويتقارب الزمان ، ويكثر الهرج . قيل : وما الهرج ؟ قال :
القتل . ( صحيحة 2772 ) . »
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
”Tidak terjadi hari kiamat hingga muncul banyak fitnah, banyak kedustaan-kedustaan, berdekatannya pasar-pasar, berdekatannya zaman dan banyaknya al-Harj.”Dikatakan:’Dan apa al-harj?’ beliau menjawab:”pembunuhan” (Silsilah ash-Shahiha 2772)
Maka sebagai orang yang berakal tentunya sudah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk meniggalkan akhlaq yang buruk ini.
Dusta yang diperbeolehkan.
Dusta memang haram dan tidak diperbolehkan, hanya saja ada kondisi-kondisi tertentu di mana saat itu diperbolehkan. Kondisi itu di mana manfaat/ maslahat yang didapatkan dari dusta lebih besar daripada bahaya/mudharat yang ditimbulkan, maka saat itu pelakunya tidak tercela di hadapan manusia karena kedustaan di situ adalah kebaikan bukan sebuah keburukan dan sebagai bentuk perbaikan bukan perusakan. Kondisi-kondisi tersebut adalah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut:
"لا يصلح الكذب إلا في ثلاث : يحدث الرجل امرأته والكذب في الحرب والكذب ليصلح بين الناس" رواه الترمذي وحسنه الألباني .
”Tidak dibenarkan berdusta kecuali dalam tiga hal:”Seorang laki-laki yang berbicara kepada istrinya, dusta dalam peperangan dan dusta untuk memperbaiki hubungan manusia (yang sedang berseteru).”(HR. at_tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah)
Sesunguhnya dusta yang boleh di antara suami istri adalah yang bisa memperbaiki hubungan dan menyenagnkan hati, seperti seorang suami yangmengatakan kepada istrinya:”Aku mencintaimu, engkau sangat berharga bagiku, dan engkau cantik tidak ada yang lebih cantik cari engkau.” Dan sang istri pun berkata demikian juga kepada suaminya. Maka tidak diragukan lagi bahwa dusta yang seperti ini manfaatnya lebih besar, dan di dalamya ada upaya perbaikan dalam hubungan rumah tangga, dan hal itu tidak bisa tercapai kecuali dengan dusta. Seandainya semua suami yang kurang senang dengan istrinya terus terang dan jujur terhadapnya, tentu akan hancurlah keluarga tersebut, dan kehancuran tersebut akan membawa dampak kepada keburukan yang sangat banyak, dan akhir yang menyakitkan.
Kemudia kedustaan kedua yang diperbolehkan adalah kedustaan dalam peperangan, seandainya seorang muslim jujur kepada musuhnya dalam peperangan, maka kejujuran tersebut terhitung sebagai sebuah kelemahan dan sikap pengecut, disamping hal itu akan menimbulkan bahaya yang besar terhadap Islam dan kaum muslimin.Wallahu A'lam.
Keutamaan Jujur dan Bahaya Dusta dalam Perkataan dan Perbuatan
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى
الله عليه وسلم: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ
البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ
يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِيْقاً,
وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ
وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ
يَكْذِبُ وَيتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كذاباً. (رواه
مسلم)
TERJEMAH HADITS:
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, ia berkata:
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Wajib atas kalian
berlaku JUJUR, karena sesungguhnya JUJUR itu menunjukkan (pelakunya)
kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkan kepada Surga. Seseorang
senantiasa JUJUR dan berusaha untuk selalu JUJUR sehingga ia ditulis di
sisi Allah sebagai orang yang sangat JUJUR. Dan jauhilah oleh kalian
sifat DUSTA, karena
sesungguhnya DUSTA itu menunjukkan pelakunya kepada keburukan, dan keburukan itu
menunjukkan kepada api Neraka. Seseorang senantiasa
berdusta dan berusaha untuk selalu berdusta sehingga ia ditulis disisi
Allah sebagai seorang pendusta.” (SHOHIH. Diriwayatka oleh imam Muslim
no. 6586).
BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH YANG DAPAT DIAMBIL DARI HADITS INI:
1. JUJUR dalam setiap perkataan n perbuatan termasuk akhlak terpuji yang dicintai dan diridhoi Allah ta'ala dan manusia.
2. Hukum JUJUR adalah WAJIB bagi setiap individu muslim dan muslimah.
» Hal ini berdasarkan firman Allah ta'ala: (Yaa Ayyuhalladziina Aamanuttaqullaaha wa Kuunuu Ma'ash-Shoodiqiin)
Artinya: "Hai orang-orang yg beriman bertakwalah kalian
kepada Allah, dan jadilah kalian bersama orang-orang yg JUJUR." (QS.
At-Taubah: 119).
» Dan jg berdasarkan hadits di atas.
3. Orang mukmin yang JUJUR ialah orang yang perkataannya sesuai dengan perbuatan dan isi hatinya.
4. JUJUR termasuk sebaik-baik sebab yang mengantarkan
seorang hamba ke dalam Surga, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi
wasallam di dalam hadits shohih di atas.
5. Orang yg JUJUR termasuk orang yang diberi nikmat oleh
Allah dan akan dikumpulkan bersama para Nabi, orang-orang mati syahid,
dan orang-orang sholih di dalam Surga.
Hal ini berdasarkan firman Allah ta'ala (yang artinya):
"Dan barangsiapa taat kpd Allah n Rasul-Nya, maka mereka
akan dikumpulkan (di dalam Surga) bersama orang-orang yang diberi nikmat
oleh Allah dari kalangan para Nabi, orang-orang yang selalu JUJUR,
orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholih." (QS. An-Nisa':
69).
6. JUJUR dalam transaksi jual beli merupakan sebab
datangnya keberkahan rezeki dari Allah. Demikian sebaliknya, DUSTA akan
menghilangkan keberkahan rezeki.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam (yang artinya): "Dua pelaku transaksi jual beli mempunyai hak
khiyar (melangsungkan atau membatalkan transaksi jual beli) selagi
keduanya belum berpisah dari majlis (tempat akad jual beli). Jika
keduanya bersikap jujur dan menerangkan cacat (yakni tidak menutupi
kekurangan) yang ada pada barang dagangannya, maka transaksi jual beli
mereka berdua diberkahi Allah. Namun, jika keduanya berdusta dan
menutupi cacat barang dagangannya, maka dihilangkan oleh Allah
keberkahan akad jual beli mereka."
7. JUJUR dalam menulis artikel ilmiyah serta menshare
ilmu kepada orang lain melalui berbagai media seperti BB, FB,
Website/Blog dengan mencantumkan sumber rujukan (referensi)nya akan
mendatangkan keberkahan pada ilmunya, karena itu termasuk bentuk amanah
ilmiyah.
Sedangkan DUSTA dalam hal itu semua dengan copy paste
dari karya tulis orang lain yang ada di situs-situs internet, buku
terjemahan dsb, dengan menghilangkan nama penulisnya dan menggantinya
dengan nama dirinya (spt: Oleh ustadz Fulan, By Abu Fulan) atau dengan
merubah judulnya tanpa seizin penulisnya akan mengurangi atau bahkan
menghilangkan keberkahan pada ilmunya, karena itu bukan termasuk amanah
ilmiyah, dan menurut para ulama hadits, bahwa yang demikian itu disebut
Sariqoh (pencurian karya ilmiyah milik orang lain), atau sebagian orang
menyebutnya sebagai PLAGIAT. Dan ini hukumnya HARAM.
8. DUSTA merupakan sifat buruk yang sangat dibenci oleh Allah dan manusia.
9. Wajib bagi kita mengajarkan sifat JUJUR dlm setiap
urusan dunia dan agama kepada diri kita, keluarga kita dan kaum muslimin
secara umum.
10. Wajib bagi kita memperingatkan diri kita, keluarga
kita dan kaum muslimin secara umum dari bahaya DUSTA di dunia dan
akhirat.
11. DUSTA termasuk sebab utama yang menjerumuskan pelakunya ke dalam siksa api Neraka.
12. DUSTA merupakan salah satu sifat orang Munafik.
Hal ini berdasarkan hadits shohih yang diriwayatkan dari
Abu Hurairah radhiyallahu anhu; bahwa Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda:
"Tanda orang munafik itu ada 3, yaitu:
» Apabila berbicara, ia berdusta.
» Apabila berjanji, ia ingkari.
» Apabila diberi amanah, ia berkhianat. (SHOHIH. Diriwayatkan oleh imam al-Bukhari & Muslim).
13. Berdusta bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kedustaan berikutnya.
14. Berdusta bisa menyebabkan terjadinya perpecahan dan permusuhan di antara kaum muslimin.
15. Manusia yg paling JUJUR kepada Allah dan Rasul-Nya
adalah AHLI TAUHID dan ITTIBA' (yang senantiasa mengikuti tuntunan Nabi
shallallahu alaihi wasallam) daalm masalah Aqidah, ibadah, manhaj,
akhlak dan adab, mu'amalah, dakwah, dsb.
Sedangkan manusia yang paling DUSTA adalah orang-orang
musyrik dan kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menentang hukum
syari'at yang ada di dalam Al-Quran Al-Karim dan As-sunnah An-Nabawiyyah
yang Shohih.
Demikian beberapa pelajaran penting dan faedah ilmiyah
yang dapat kami sebutkan dari hadits shohih ini. Semoga menjadi ilmu
yang bermanfaat. Dan semoga Allah ta'ala menjadikan kita sebagai
hamba-hamba-Nya yang selalu bersikap JUJUR dalam setiap perkataan,
perbuatan dan keyakinan. آمِيْنَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ .
Antara Hutang Dan Tawakal
Bismillah wal hamdulillah washolatu wasalamu ‘ala rosulillah, wa ba’du:
Memiliki hutang bukanlah kondisi yang
menyenangkan. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- sendiri bahkan
berlindung kepada Allah ta’ala dari hutang seraya berkata:
« إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ »
Artinya: “seseorang jika sudah berhutang dia akan berbohong ketika berkata, dan menyelisihi ketika berjanji” (HR. Abu Dawud)Maksudnya disini adalah: kemungkinan dia untuk berdusta dan menyelisihi janji sangatlah besar karena biasanya ketika dia merasa kesulitan melunasi hutang dia harus menggunakan berbagai cara untuk menunda-nunda pembayaran termasuk berbohong dan mengingkari janji.
Hadits diatas sudah cukup sebagai alasan bagi seorang muslim untuk sebisa mungkin menghindari hutang. Namun seiring desakan kebutuhan hidup terkadang kita terpaksa harus berhutang. Syukurlah kalau hutangnya hanya sebatas kemampuan kita, tapi bagaimana jadinya kalau sudah sampai diluar batas kemampuan kita untuk melunasi? Dalam hal ini, agama islam yang hanif ini memberi solusi bagi umatnya.
أتا علياًّ – رضي الله عنه – رجلٌِ فَقَالَ :يَا أَمِيرَ المُؤمِنِينَ، إنِّي عَجِزْتُ عَنْ مُكِتَابَتِي فَأعِنِّي ، قَالَ : ألا أُعَلِّمُكَ كَلِماتٍ عَلَّمَنِيهنَّ رسُولُ الله – صلى الله
عليه وسلم – لَوْ كَانَ عَلَيْكَ مِثْلُ جَبَلِ صِيرٍ دَيْناً أدَّاهُ اللهُ عَنْكَ ؟ قَالَ :بلى، قال: قُلْ : « اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِواكَ »
Terjemahan hadits:Seorang lelaki mendatangi khalifah Ali bin Abi Tholib seraya berkata: wahai amirul mu’minin, aku tidak sanggup membayar biaya “mukatabah” diriku, maka bantulah aku. Ali bin Abi Tholib berkata: maukah kamu aku ajarkan sebuah doa yang pernah Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- ajarkan kepadaku yang dengan doa itu Allah ta’ala akan membantumu melunasi hutangmu walaupun sebesar gunung Shiir? Lelaki itu menjawab: tentu. Kemudian Ali bin Abi Tholib berkata: ucapkanlah:
« اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ ، وَأغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِواكَ »
Takhrijul hadits (Penjelasan riwayat hadits):
Hadits diatas diriwayatkan oleh imam Tirmidzi no.3563 dan beliau berkata: “hadis ini hasan ghorib”, dan diriwayatkan pula oleh imam Al-Hakim (1/538) dan beliau berkata: sanad hadits ini dan tidak diriwayatkan oleh bukahori dan mulim, dan disepakati oleh imam Adz-Dzahabi.
Penjelasan kata-kata asing dalam hadits:
Mukatabah: sebuah akad penebusan diri seorang budak dengan membayar sejumlah uang kepada majikannya cara mengangsur atau menyicil, kalau angsuran tersebut sudah mencapai harga yang disepakati maka budak tersebut merdeka. Contohnya: bila engkau membayar seribu dinar kepadaku dengan menyicil seratus dinar tiap bulannya maka engkau merdeka. Wallahu a’lam.
Shiir: nama sebuah gunung di semenanjung arab
Syarah hadits (penjelasan hadits):
Pada suatu hari seorang budak datang kepada sahabat ‘Ali bun Abi Tholib yang ketika itu sedang menjabat sebagi khalifah. Budak itu mengeluhkan perihal hutang “mukatabah”nya kepada majikannya yang tak kunjung lunas entah karena terlalu mahal atau karena sang budak merasa sulit memperoleh mata pencaharian dengan hasil mencukupi untung melunasi “mukatabah” itu. Maka Ali bin Abi Tholib memberikan jawaban yang membuktikan bahwa dia memang pemimpin sejati, seorang pemimpin yang tidak hanya piawai mengatur hal-hal yang bersifat material tapi juga menjadi seorang “murobbi” pembimbing rakyatnya dalam menjalankan kehidupan spiritual. Beliau merespon keluahan budak itu bukan dengan memberikan uang tunai agar hutangnya selesai, padahal sebagai seorang khalifah beliau bisa saja melunasi hutang budak itu dari dana Baitul mal. Beliau justru mengajarkannya sebuah doa yang beliau pelajari dari Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- dengan jaminan bahwa dengan mengamalkan doa tersebut Allah ta’aal akan memberikan dia pertolongan untuk melunasi hutang seberapa basar hutangnya itu.
Dengan mengajarkan doa tersebut beliau ingin menanamkan dalam jiwa lelaki ini salah satu sifat yang menjadi penyebab dibukanya pintu rizki dan dimudahkannya berbagai urusan, yaitu sikap tawakkal kepada Allah ta’ala, sebagaimana tersurat dalam firman-Nya:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Artinya: “dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah maka itu sudah cukup baginya” (Ath-Tholaq:3)Salah satu implementasi sikap tawakkal adalah dengan menjadikan Allah ta’ala sebagai tempat mengadu pertama kali ketika terjadi masalah dan bukan makhluk-Nya. Dengan mengucapkan doa ini seorang muslim memohon kepada Allah ta’ala dua hal yang menjadi esensi sikap tawakal yaitu: pertama qona’ah (merasa cukup) dengan perkara yang halal sehingga tidak memerlukan yang haram, dan yang kedua qona’ah dengan apa yang diberikan Allah ta’ala sehingga tidak menggantukan diri kepada orang lain. Singkatnya, ketika seseorang keluar dari tempat tinggalnya untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berbekal mencari kedua hal diatas maka Allah ta’ala akan menurunkan pertolongan kepadanya.
Ada beberapa pelajaran berharga yang dapat di petik dari hadis di atas, diantaranya:
1. sikap tawakal adalah salah satu sebab dibukanya pintu rizki, dalam hadit yang lain Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- bersabda:
لَو أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقَ الطَيْرَ : تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Perlu digarisbawahi pula bahwa untuk melahirkan tawakal yang bisa mendatangkan pertolongan Allah ta’ala selain harus diiringi dengan kerja yang benar juga harus dibarengi dengan niat bersih. Sebagaimana sabda Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam-:
مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّاهَا اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهَا اللَّهُ
Artinya: “Barangsiapa yang meminjam harta orang lain dan dia berniat untuk melunasinya maka Allah ta’ala akan (menolongnya untuk) melunasinya, dan barangsiapa yang meminjam harta orang lain dan dia berniat untuk merusaknya maka Allah ta’ala akan mebuat orang tersebut celaka” (HR.Bukhori)2.Dalam hadits tersebut terdapat anjuran untuk mengharap karunia Allah ta’ala semata. Sebagaimana juga yang Allah ta’ala perintahkan dalam firman-Nya:
وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ
Dan juga ayat yang lain:
وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ
Artinya: “Dan hanya kepada Robb-mulah hendaknya kamu berharap” (Al-Insyiroh:8)Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- juga pernah mewasiatkan hal senada kepada Abdullah bin abbas dalam sabdanya:
إِذَا سَأَلْتَ فَسَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
Artinya: “jika engkau meminta maka mintalah (hanya) kepada Allah, dan jika kamu memohon pertolongan mohonlah hanya kepada Allah” (HR.Tirmidzi, hasan shohih ghorib)Dalam mengomentari hadits ibnu abbas diatas, Imam Ibnu Rajab menerangkan hikmah dibalik perintah Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- bahwasanya di dalam “meminta” tersirat rasa kerendahdirian dan rasa ketergantungan sang peminta disertai pengakuan bahwa yang di minta memiliki kemampuan untuk mendatangkan maslahat serta menolak mudharat, dan hal semacam ini tidak layak dipersembahkan kecuali kepada Allah ta’ala semata karena inilah esensi ibadah. (jami’ul ‘ulum wal hikam)
Dan salah satu doa yang pernah dilantukan oleh imam Ahmad adalah:
اللهمَّ كَمَا صُنْتَ وَجْهِيِ عَنِ السُّجُودِ لِغَيْرِكَ، فَصُنْ وَجْهِيِ عَنِ المَسْأَلَةِ لِغَيْرِكَ
3. Sudah sepantasnya bagi seorang “murobi” untuk mengarahkan orang lain agar tidak bergantung kepada orang lain. Apa yang di lakukan Ali persis seperti apa yang dilakukan Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- terhadap salah seorang anshor yang datang menemui beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- untuk meminta sedekah guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- tidak memberinya harta, padahal bisa saja beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- berdoa agar Allah ta’ala agar memberikan harta seketika itu juga untuk disedekahkan. Tapi beliau -sholallahu ‘alaihi wasalam- mengarahkan lelaki anshor itu kepada hal yang lebih baik yaitu bekerja, karena dengan itu dia bisa lepas dari ketergantungan diri terhadap orang lain. Beliau berkata kepada sahabat anshor itu: “apa yang kamu punya di rumah?”, dia menjawab: “aku punya kain yang sebagian dipakai sebagai pakaian dan sebagian lagi digunakan sebagai alas, dan juga sebuah tempat minum air”, beliau berkata: “bawa kemari keduanya!”. Kemudian sahabat itu kembali dengan membawa kedua benda tersebut, lalu Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- memegangnya dengan kedua tangannya seraya berkata kepada sahabat yang lain: “siapa yang mau membeli benda ini?”, salah seorang menjawab: “saya mau membelinya dengan harga satu dirham”, beliau berkata: “siapa yang mau membayar lebih dari satu dirham?”, beliau mengulanginya dua atau tiga kali hingga akhirnya salah seorang lain menjawab: “aku mau membelinya dengan dua dirham”, akhirnya Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- menjualnya dengan harga dua dirham dan memberikanya kepada sahabat anshor tadi seraya berkata: “gunakan uang satu dirham ini untuk memenuhi kebutuhan keluargamu, sedang yang satu lagi gunakanlah untuk membeli beliung (mata kampak), setelah itu datang kembali kepadaku!”. Sahabat anshor menjalankan apa yang diperintahkan Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- kemudian kembali sambil membawa beliung tadi. Lalu Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- mengambil sebatang kayu dan mengikatkannya dengan beliung hingga berbentuk kampak dan berkata: “pergilah, cari kayu bakar kemudian jualah, dan jangan kembali lagi kepadaku kecuali setelah lima belas hari”. Kemudian sahabat anshor ini menjalankan apa yang diperintahkan Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- dan setelah lima belas hari dia datang dengan membawa sepuluh dirham, sebagiannya dia gunakan intuk membeli pakaian dan sebagian lagi untuk membeli makanan. Melihat kondisinya itu Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- bersabda: “bukankah ini lebih baik daripada kamu datang pada hari kiamat nanti dengan noda hitam diwajahmu karena meminta-minta?” (HR. Tirmidzi, Nasa’I, dan Ibnu Majah. Imam Tirmidzi berkata hadits ini hasan).
4. Salah satu metode yang baik dalam mengajar adalah dengan memberi tahu terlebih dahulu kepada orang yang diajar sebelum memulai pelajaran bahwasanya kita akan menyampaikan suatu pelajaran yang berharga. Dengan cara ini orang yang diajar aka terlebih mempersiapkan telinga dan pikirannya untuk menerima pelajaran yang akan disampaikan. Dan Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasalam- sangat sering menggunakan metode ini ketika menyampaikan pelajaran kepada para sahabatnya. Kalau kita buka lembaran-lembaran riwayat hadits kita akan temukan banyak sekali kalimat: “maukah aku tunjukan kepadamu?”, “maukah aku beri tahu?”, “maukah aku kabarkan kepadamu?”, dan kalimat-lakimat sejenisnya.
5. Harta yang halal mendatangkan keberkahan.
Bahaya Orang yang Enggan Melunasi Hutangnya
Keutamaan Orang yang Terbebas dari Hutang
Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ
“Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul (khianat), dan [3] hutang, maka dia akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Ibnu Majah membawakan hadits ini pada Bab “Peringatan keras mengenai hutang.”
Mati Dalam Keadaan Masih Membawa Hutang, Kebaikannya Sebagai Ganti
Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Ibnu Majah juga membawakan hadits ini pada Bab “Peringatan keras mengenai hutang.”
Itulah keadaan orang yang mati dalam keadaan masih membawa hutang dan belum juga dilunasi, maka untuk membayarnya akan diambil dari pahala kebaikannya. Itulah yang terjadi ketika hari kiamat karena di sana tidak ada lagi dinar dan dirham untuk melunasi hutang tersebut.
Urusan Orang yang Berhutang Masih Menggantung
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)
Al ‘Iroqiy mengatakan, “Urusannya masih menggantung, tidak ada hukuman baginya yaitu tidak bisa ditentukan apakah dia selamat ataukah binasa, sampai dilihat bahwa hutangnya tersebut lunas atau tidak.” (Tuhfatul Ahwadzi, 3/142)
Orang yang Berniat Tidak Mau Melunasi Hutang Akan Dihukumi Sebagai Pencuri
Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا
“Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)
Al Munawi mengatakan, “Orang seperti ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri dan akan diberi balasan sebagaimana mereka.” (Faidul Qodir, 3/181)
Ibnu Majah membawakan hadits di atas pada Bab “Barangsiapa berhutang dan berniat tidak ingin melunasinya.”
Ibnu Majah juga membawakan riwayat lainnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ
“Barangsiapa yang mengambil harta manusia, dengan niat ingin menghancurkannya, maka Allah juga akan menghancurkan dirinya.” (HR. Bukhari no. 18 dan Ibnu Majah no. 2411). Di antara maksud hadits ini adalah barangsiapa yang mengambil harta manusia melalui jalan hutang, lalu dia berniat tidak ingin mengembalikan hutang tersebut, maka Allah pun akan menghancurkannya. Ya Allah, lindungilah kami dari banyak berhutang dan enggan untuk melunasinya.
Masih Ada Hutang, Enggan Disholati
Dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
Kami duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyolati jenazah tersebut.
Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah shalatkanlah dia!” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Iya.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Ada, sebanyak 3 dinar.” Lalu beliau mensholati jenazah tersebut.
Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata, “Shalatkanlah dia!” Beliau bertanya, “Apakah dia meningalkan sesuatu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka menjawab, “Ada tiga dinar.” Beliau berkata, “Shalatkanlah sahabat kalian ini.” Lantas Abu Qotadah berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung hutangnya.” Kemudian beliau pun menyolatinya.” (HR. Bukhari no. 2289)
Dosa Hutang Tidak Akan Terampuni Walaupun Mati Syahid
Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ
“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886)
Oleh karena itu, seseorang hendaknya berpikir: “Mampukah saya melunasi hutang tersebut dan mendesakkah saya berhutang?” Karena ingatlah hutang pada manusia tidak bisa dilunasi hanya dengan istighfar.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Sering Berlindung dari Berhutang Ketika Shalat
Bukhari membawakan dalam kitab shohihnya pada Bab “Siapa yang berlindung dari hutang”. Lalu beliau rahimahullah membawakan hadits dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ » . فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ » .
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di akhir shalat (sebelum salam): ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).”
Lalu ada yang berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan adalah dalam masalah hutang?” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika orang yang berhutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (HR. Bukhari no. 2397)
Al Muhallab mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya memotong segala perantara yang menuju pada kemungkaran. Yang menunjukkan hal ini adalah do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berlindung dari hutang dan hutang sendiri dapat mengantarkan pada dusta.” (Syarh Ibnu Baththol, 12/37)
Adapun hutang yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung darinya adalah tiga bentuk hutang:
Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berlindung dari hutang ketika shalat? Ibnul Qoyyim dalam Al Fawa’id (hal. 57, Darul Aqidah) mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak hutang karena banyak dosa akan mendatangkan kerugian di akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia.”
Inilah do’a yang seharusnya kita amalkan agar terlindung dari hutang: ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).
Berbahagialah Orang yang Berniat Melunasi Hutangnya
Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam Bab “Siapa saja yang memiliki hutang dan dia berniat melunasinya.” Lalu beliau membawakan hadits dari Ummul Mukminin Maimunah.
كَانَتْ تَدَّانُ دَيْنًا فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَهْلِهَا لاَ تَفْعَلِى وَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا قَالَتْ بَلَى إِنِّى سَمِعْتُ نَبِيِّى وَخَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا ».
Dulu Maimunah ingin berhutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim memiliki hutang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi hutang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi hutang tersebut di dunia.” (HR. Ibnu Majah no. 2399. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih kecuali kalimat fid dunya -di dunia-)
Dari hadits ini ada pelajaran yang sangat berharga yaitu boleh saja kita berhutang, namun harus berniat untuk mengembalikannya. Perhatikanlah perkataan Maimunah di atas.
Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ
“Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar hutang. Ketika dia mampu, dia langsung melunasinya atau melunasi sebagiannya jika dia tidak mampu melunasi seluruhnya. Sikap seperti inilah yang akan menimbulkan hubungan baik antara orang yang berhutang dan yang memberi hutangan.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً
“Sesungguhnya yang paling di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” (HR. Bukhari no. 2393)
Ya Allah, lindungilah kami dari berbuat dosa dan beratnya hutang, mudahkanlah kami untuk melunasinya.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Dari Tsauban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ
“Barangsiapa yang ruhnya terpisah dari jasadnya dan dia terbebas dari tiga hal: [1] sombong, [2] ghulul (khianat), dan [3] hutang, maka dia akan masuk surga.” (HR. Ibnu Majah no. 2412. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Ibnu Majah membawakan hadits ini pada Bab “Peringatan keras mengenai hutang.”
Mati Dalam Keadaan Masih Membawa Hutang, Kebaikannya Sebagai Ganti
Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah no. 2414. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih). Ibnu Majah juga membawakan hadits ini pada Bab “Peringatan keras mengenai hutang.”
Itulah keadaan orang yang mati dalam keadaan masih membawa hutang dan belum juga dilunasi, maka untuk membayarnya akan diambil dari pahala kebaikannya. Itulah yang terjadi ketika hari kiamat karena di sana tidak ada lagi dinar dan dirham untuk melunasi hutang tersebut.
Urusan Orang yang Berhutang Masih Menggantung
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)
Al ‘Iroqiy mengatakan, “Urusannya masih menggantung, tidak ada hukuman baginya yaitu tidak bisa ditentukan apakah dia selamat ataukah binasa, sampai dilihat bahwa hutangnya tersebut lunas atau tidak.” (Tuhfatul Ahwadzi, 3/142)
Orang yang Berniat Tidak Mau Melunasi Hutang Akan Dihukumi Sebagai Pencuri
Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا
“Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih)
Al Munawi mengatakan, “Orang seperti ini akan dikumpulkan bersama golongan pencuri dan akan diberi balasan sebagaimana mereka.” (Faidul Qodir, 3/181)
Ibnu Majah membawakan hadits di atas pada Bab “Barangsiapa berhutang dan berniat tidak ingin melunasinya.”
Ibnu Majah juga membawakan riwayat lainnya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ
“Barangsiapa yang mengambil harta manusia, dengan niat ingin menghancurkannya, maka Allah juga akan menghancurkan dirinya.” (HR. Bukhari no. 18 dan Ibnu Majah no. 2411). Di antara maksud hadits ini adalah barangsiapa yang mengambil harta manusia melalui jalan hutang, lalu dia berniat tidak ingin mengembalikan hutang tersebut, maka Allah pun akan menghancurkannya. Ya Allah, lindungilah kami dari banyak berhutang dan enggan untuk melunasinya.
Masih Ada Hutang, Enggan Disholati
Dari Salamah bin Al Akwa’ radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
Kami duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu didatangkanlah satu jenazah. Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyolati jenazah tersebut.
Kemudian didatangkanlah jenazah lainnya. Lalu para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah shalatkanlah dia!” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Iya.” Lalu beliau mengatakan, “Apakah dia meninggalkan sesuatu?” Lantas mereka (para sahabat) menjawab, “Ada, sebanyak 3 dinar.” Lalu beliau mensholati jenazah tersebut.
Kemudian didatangkan lagi jenazah ketiga, lalu para sahabat berkata, “Shalatkanlah dia!” Beliau bertanya, “Apakah dia meningalkan sesuatu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Tidak ada.” Lalu beliau bertanya, “Apakah dia memiliki hutang?” Mereka menjawab, “Ada tiga dinar.” Beliau berkata, “Shalatkanlah sahabat kalian ini.” Lantas Abu Qotadah berkata, “Wahai Rasulullah, shalatkanlah dia. Biar aku saja yang menanggung hutangnya.” Kemudian beliau pun menyolatinya.” (HR. Bukhari no. 2289)
Dosa Hutang Tidak Akan Terampuni Walaupun Mati Syahid
Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ
“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886)
Oleh karena itu, seseorang hendaknya berpikir: “Mampukah saya melunasi hutang tersebut dan mendesakkah saya berhutang?” Karena ingatlah hutang pada manusia tidak bisa dilunasi hanya dengan istighfar.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Sering Berlindung dari Berhutang Ketika Shalat
Bukhari membawakan dalam kitab shohihnya pada Bab “Siapa yang berlindung dari hutang”. Lalu beliau rahimahullah membawakan hadits dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ وَيَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ » . فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنَ الْمَغْرَمِ قَالَ « إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ » .
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di akhir shalat (sebelum salam): ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).”
Lalu ada yang berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan adalah dalam masalah hutang?” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika orang yang berhutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.” (HR. Bukhari no. 2397)
Al Muhallab mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dalil tentang wajibnya memotong segala perantara yang menuju pada kemungkaran. Yang menunjukkan hal ini adalah do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berlindung dari hutang dan hutang sendiri dapat mengantarkan pada dusta.” (Syarh Ibnu Baththol, 12/37)
Adapun hutang yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung darinya adalah tiga bentuk hutang:
- Hutang yang dibelanjakan untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah dan dia tidak memiliki jalan keluar untuk melunasi hutang tersebut.
- Berhutang bukan pada hal yang terlarang, namun dia tidak memiliki cara untuk melunasinya. Orang seperti ini sama saja menghancurkan harta saudaranya.
- Berhutang namun dia berniat tidak akan melunasinya. Orang seperti ini berarti telah bermaksiat kepada Rabbnya. Orang-orang semacam inilah yang apabila berhutang lalu berjanji ingin melunasinya, namun dia mengingkari janji tersebut. Dan orang-orang semacam inilah yang ketika berkata akan berdusta. (Syarh Ibnu Baththol, 12/38)
Kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berlindung dari hutang ketika shalat? Ibnul Qoyyim dalam Al Fawa’id (hal. 57, Darul Aqidah) mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak hutang karena banyak dosa akan mendatangkan kerugian di akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia.”
Inilah do’a yang seharusnya kita amalkan agar terlindung dari hutang: ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang).
Berbahagialah Orang yang Berniat Melunasi Hutangnya
Ibnu Majah dalam sunannya membawakan dalam Bab “Siapa saja yang memiliki hutang dan dia berniat melunasinya.” Lalu beliau membawakan hadits dari Ummul Mukminin Maimunah.
كَانَتْ تَدَّانُ دَيْنًا فَقَالَ لَهَا بَعْضُ أَهْلِهَا لاَ تَفْعَلِى وَأَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهَا قَالَتْ بَلَى إِنِّى سَمِعْتُ نَبِيِّى وَخَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلاَّ أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِى الدُّنْيَا ».
Dulu Maimunah ingin berhutang. Lalu di antara kerabatnya ada yang mengatakan, “Jangan kamu lakukan itu!” Sebagian kerabatnya ini mengingkari perbuatan Maimunah tersebut. Lalu Maimunah mengatakan, “Iya. Sesungguhnya aku mendengar Nabi dan kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang muslim memiliki hutang dan Allah mengetahui bahwa dia berniat ingin melunasi hutang tersebut, maka Allah akan memudahkan baginya untuk melunasi hutang tersebut di dunia.” (HR. Ibnu Majah no. 2399. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih kecuali kalimat fid dunya -di dunia-)
Dari hadits ini ada pelajaran yang sangat berharga yaitu boleh saja kita berhutang, namun harus berniat untuk mengembalikannya. Perhatikanlah perkataan Maimunah di atas.
Juga terdapat hadits dari ‘Abdullah bin Ja’far, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ
“Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 2400. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Sebaik-baik orang adalah yang paling baik dalam membayar hutang. Ketika dia mampu, dia langsung melunasinya atau melunasi sebagiannya jika dia tidak mampu melunasi seluruhnya. Sikap seperti inilah yang akan menimbulkan hubungan baik antara orang yang berhutang dan yang memberi hutangan.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً
“Sesungguhnya yang paling di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” (HR. Bukhari no. 2393)
Ya Allah, lindungilah kami dari berbuat dosa dan beratnya hutang, mudahkanlah kami untuk melunasinya.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.
Bahaya Berbohong dan Hukumnya dalam Islam
Bohong adalah penyakit yang menghinggapi masyarakat di segala zaman. Ia
adalah penyebab utama bagi timbulnya segala macam bentuk kejelekan dan
kerendahan. Suatu masyarakat takkan lurus selamanya jika perbuatan bohong ini merajalela di antara individu-individunya. Dan suatu bangsa takkan bisa menaiki tangga kemajuan kecuali jika berlandaskan pada kejujuran.
Perbuatan bohong akan menimbulkan rasa saling membenci antara sesama teman. Rasa saling mempercayai antar sesama akan hilang, dan akan tercipta suatu bentuk masyarakat yang tidak berlandaskan asas saling
tolong-menolong atau gotong royong. Apabila bohong sudah merajalela ke
dalam tubuh masyarakat, maka hilanglah rasa senang dan keakraban antara
anggota-anggotanya. Mengingat dampaknya yang sangat negatif dan
membahayakan masyarakat, maka Islam melarang berbohong dan menganggap
perbuatan ini sebagai perbuatan dosa besar. Cukuplah kiranya untuk
menjadi dalil pengharaman bohong ini ayat-ayat sebagai berikut :
“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (Q.S. 40 : 28).
Dan firman Allah :
“Kemudian marilah kita bermubahalah (bersumpah) kepada Allah dan kita
minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta” (QS.
3 : 61).
Kemudian Nabi SAW berwasiat agar kaum muslimin berpegang teguh pada kejujuran dan membuang jauh-jauh sifat pembohong.
Dalam hadits berikut beliau bersabda :
ان الصدق يهدى الى البر, ان البر يهدى
الى الجنة, وان الرجل ليصدق حتى يكتب عند الله صديقا, وان الكذب يهدى الى
القجور وان الفجور يهدى الى النار وان الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا
(رواه البخارى و مسلم
“Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan
itu akan menghantarkan kepada surga. Seseorang yang berbuat jujur oleh
Allah akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya bohong itu
akan menunjukkan kepada kelaliman, dan kelaliman itu akan menghantarkan
ke arah neraka. Seseorang yang terus menerus berbuat bohong akan
ditulis oleh Allah sebagai pembohong.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim )
Rasulullah pernah bersabda pula :
اية المنافق ثلاث : اذا حدث كذب واذا وعد أخلف واذا ؤتمن خان
“Pertanda orang yang munafiq ada
tiga: apabila berbicara bohong, apabila berjanji mengingkari janjinya
dan apabila dipercaya berbuat khianat” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.).
4 Cara Menghapus Virus Yang Tidak Terdeteksi Oleh Anti Virus
Tulisan ini ditujukan untuk membasmi virus-virus baru dan virus
Indo yang tidak terdeteksi oleh antivirus yang dipakai pada komputer. Dan juga
buat yang bete kalau harus scan
komputer cari virus berjam-jam padahal dengan cara ini
paling 10 menit beres. Semoga bisa berguna dan bermanfaat.
Bagi netter yang komputernya suka terkena virus, mungkin panduan berikut di bawah ini bisa berguna. Secara teori cara ini bisa membunuh 90% yang beredar, hanya virus macro(word, excel) dan virus yang merusak file (extension EXE) yang susah dibersihkan dengan cara ini, walau bisa dicegah penularannya.
Membasmi Virus Dengan Command Windows
Bila netter merasakan komputer terkena virus, trojan dan spyware (dalam hal ini kita kategorikan semuanya sebagai virus aja), yang biasanya dengan indikasi ada tampilan yang tidak biasanya pada desktop, program yang digunakan dan browser. Sebaiknya langsung menempuh langkah berikut ini:
1. Tahap Pertama, Matikan Virus di Memori
Tekan Ctrl + Alt + Del untuk menampilan Windows Task Manager - Lalu ke bagian "Processes", terus klik bagian "User Name" untuk mengurutkan file yang diproses padamemori. Setelah itu, lihat ada bagian yang mencurigakan atau tidak. Bila banyak yang di-loading pada memori, sebaiknya dimatikan dahulu startup yang otomatis ter-loading pada bagian bawah kanan (ikon speaker dan jam). Matikan semua ikon-ikon tersebut dengan cara "quit" atau "exit" dari programnya.
Loading virus ke memori biasanya berupa EXE file. Langkah ini untuk mencegah virusuntuk menyebar terlebih dahulu lewat memori kita. Matikan semua file EXE yang loadingdi memori kita yang sudah kita urutkan sebelumnya berdasarkan "User Name". Jangan mematikan file yang kategori "System", "Local Service", dan "Network Service", karena bisa membuat sistem kita Hang atau Freeze.
2. Tahap Kedua, Non-aktifkan Virus di Startup
Untuk menon-aktifkan virus supaya tidak terloading ke memori, kita harus membuangnya distartup. Caranya kita bisa menggunakan perintah MSCONFIG, klik menu Start>Run>msconfig - setelah itu akan tampil "System Configuration Utility". Lalu pilihlah "Startup", dalam kasus ini sebaiknya netter yang tidak mengerti mana yang loading virus mana yang bukan, sebaiknya pilih "Disable All". Nantinya netter baru aktifkan kembali startup yang diinginkan kalau virus sudah bersih.
Bila netter yang mengerti file yang loading mana file yang diperlukan, dan mana yang tidak, atau mana yang virus atau bukan, sebaiknya menbuang centang (check box) pada kotak bagian kiri untuk yang dicurigai sebagai virus. Cara ini akan menonaktifkan virus di startupkita.
3. Tahap Ketiga, Hapus File Virus dari Komputer
Carilah dengan menggunakan fasilitas "search" pada WIndows, klik menu Start>Search, lalu carilah file EXE virus (contoh:Happy.exe) yang sebelumnya loading di memori atau startup. File ini biasanya disimpan oleh pembuatnya di bagian folder Windows atau System32 dari WIndows. Setelah ditemukan, delete atau hapus file tersebut.
4. Tahap Keempat, Hapus Virus dari System Registry
Tahap ini adalah tahap terakhir. Kita harus menggunakan perintah REGEDIT untuk mengubah dan men-delete virus dariregistry kita. Pilihlah Start>Run>regedit - lalu ke menu "Edit" pilihlah "Find" (atau tekan Ctrl+F). Masukkan nama file virus yang ingin kita hapus (contoh: Happy.exe), lalu pilih "Find Next". Apabila ditemukan file virus, hapuslah semua registryyang memuat virus tersebut (berikut dengan foldernya kalau ada).
Kemudian lanjutkan dengan menekan tombol "F3" atau di menu pilih "Edit" terus "Find Next". Biasanya file virus diletakkan pada beberapa tempat di registry. Jadi pastikan netter menghapus semuanya sampai bersih, dalam arti registry komputerbebas dari loading virus tersebut. Karena kalau tidak pekerjaan ini akan sia-sia.
Membasmi Virus Dengan Bantuan Program Lain
Ada beberapa tools yang sangat berguna bagi netter untuk mempermudah pembasmian virus, antara lain:
CProcess - Tools ini fungsinya seperti "Windows Task Manager" (Ctrl + Alt +Del). Tools ini sangat bagus sekali untuk mengenali mana yang virus atau bukan karena mengandung informasi detil mengenai file yang terloading di memori. Seperti contoh file yang benar (bukan virus) selalu tertulis nama perusahaan pembuatnya (contoh: Windows buatan Microsoft Corp).
Hijack This - Tools yang sangat bagus sekali sebagai pengganti command MSCONFIG. Sering kali virus mematikan hak akses kita terhadap MSCONFIG supaya kita tidak bisa menghapus file virus yang ter-loading ketika Startup. Nah programini berfungsi untuk menggantikan MSCONFIG yang tidak bisa aktif. Selain itu program ini bisa mendeteksi lebih mendetil sepertispyware yang inject di dalam browser kita (BHO), dan bisa menonaktifkannya..
CCleaner - Tools yang satu ini selain berguna untuk menggantikan command REGEDIT, juga bisa membersihkan virus di registry secara otomatis. Selain itu CCleaner juga bisa mempercepat akses Windows kamu dengan membersihkansemua sampah-sampah di dalam registry kamu.
PCMAV - Program antivirus buatan PC Media ini terbukti sangat ampuh untuk menghapus virus-virus Indo yang kadang-kadang suka rese.
AVG 8 Free Edition - Program antivirus gratis yang sangat powerful untuk mengatasi virus dari luar negeri.
Software ini Process Explorer... sama seperti CProcess. Tiap proses diberi warna tertentu supaya mudah dalam mendeteksi dan membedakan antar proses. Tidak perlu diinstall, bisa langsung jalan.
Bagi netter yang komputernya suka terkena virus, mungkin panduan berikut di bawah ini bisa berguna. Secara teori cara ini bisa membunuh 90% yang beredar, hanya virus macro(word, excel) dan virus yang merusak file (extension EXE) yang susah dibersihkan dengan cara ini, walau bisa dicegah penularannya.
Membasmi Virus Dengan Command Windows
Bila netter merasakan komputer terkena virus, trojan dan spyware (dalam hal ini kita kategorikan semuanya sebagai virus aja), yang biasanya dengan indikasi ada tampilan yang tidak biasanya pada desktop, program yang digunakan dan browser. Sebaiknya langsung menempuh langkah berikut ini:
1. Tahap Pertama, Matikan Virus di Memori
Tekan Ctrl + Alt + Del untuk menampilan Windows Task Manager - Lalu ke bagian "Processes", terus klik bagian "User Name" untuk mengurutkan file yang diproses padamemori. Setelah itu, lihat ada bagian yang mencurigakan atau tidak. Bila banyak yang di-loading pada memori, sebaiknya dimatikan dahulu startup yang otomatis ter-loading pada bagian bawah kanan (ikon speaker dan jam). Matikan semua ikon-ikon tersebut dengan cara "quit" atau "exit" dari programnya.
Loading virus ke memori biasanya berupa EXE file. Langkah ini untuk mencegah virusuntuk menyebar terlebih dahulu lewat memori kita. Matikan semua file EXE yang loadingdi memori kita yang sudah kita urutkan sebelumnya berdasarkan "User Name". Jangan mematikan file yang kategori "System", "Local Service", dan "Network Service", karena bisa membuat sistem kita Hang atau Freeze.
2. Tahap Kedua, Non-aktifkan Virus di Startup
Untuk menon-aktifkan virus supaya tidak terloading ke memori, kita harus membuangnya distartup. Caranya kita bisa menggunakan perintah MSCONFIG, klik menu Start>Run>msconfig - setelah itu akan tampil "System Configuration Utility". Lalu pilihlah "Startup", dalam kasus ini sebaiknya netter yang tidak mengerti mana yang loading virus mana yang bukan, sebaiknya pilih "Disable All". Nantinya netter baru aktifkan kembali startup yang diinginkan kalau virus sudah bersih.
Bila netter yang mengerti file yang loading mana file yang diperlukan, dan mana yang tidak, atau mana yang virus atau bukan, sebaiknya menbuang centang (check box) pada kotak bagian kiri untuk yang dicurigai sebagai virus. Cara ini akan menonaktifkan virus di startupkita.
3. Tahap Ketiga, Hapus File Virus dari Komputer
Carilah dengan menggunakan fasilitas "search" pada WIndows, klik menu Start>Search, lalu carilah file EXE virus (contoh:Happy.exe) yang sebelumnya loading di memori atau startup. File ini biasanya disimpan oleh pembuatnya di bagian folder Windows atau System32 dari WIndows. Setelah ditemukan, delete atau hapus file tersebut.
4. Tahap Keempat, Hapus Virus dari System Registry
Tahap ini adalah tahap terakhir. Kita harus menggunakan perintah REGEDIT untuk mengubah dan men-delete virus dariregistry kita. Pilihlah Start>Run>regedit - lalu ke menu "Edit" pilihlah "Find" (atau tekan Ctrl+F). Masukkan nama file virus yang ingin kita hapus (contoh: Happy.exe), lalu pilih "Find Next". Apabila ditemukan file virus, hapuslah semua registryyang memuat virus tersebut (berikut dengan foldernya kalau ada).
Kemudian lanjutkan dengan menekan tombol "F3" atau di menu pilih "Edit" terus "Find Next". Biasanya file virus diletakkan pada beberapa tempat di registry. Jadi pastikan netter menghapus semuanya sampai bersih, dalam arti registry komputerbebas dari loading virus tersebut. Karena kalau tidak pekerjaan ini akan sia-sia.
Membasmi Virus Dengan Bantuan Program Lain
Ada beberapa tools yang sangat berguna bagi netter untuk mempermudah pembasmian virus, antara lain:
CProcess - Tools ini fungsinya seperti "Windows Task Manager" (Ctrl + Alt +Del). Tools ini sangat bagus sekali untuk mengenali mana yang virus atau bukan karena mengandung informasi detil mengenai file yang terloading di memori. Seperti contoh file yang benar (bukan virus) selalu tertulis nama perusahaan pembuatnya (contoh: Windows buatan Microsoft Corp).
Hijack This - Tools yang sangat bagus sekali sebagai pengganti command MSCONFIG. Sering kali virus mematikan hak akses kita terhadap MSCONFIG supaya kita tidak bisa menghapus file virus yang ter-loading ketika Startup. Nah programini berfungsi untuk menggantikan MSCONFIG yang tidak bisa aktif. Selain itu program ini bisa mendeteksi lebih mendetil sepertispyware yang inject di dalam browser kita (BHO), dan bisa menonaktifkannya..
CCleaner - Tools yang satu ini selain berguna untuk menggantikan command REGEDIT, juga bisa membersihkan virus di registry secara otomatis. Selain itu CCleaner juga bisa mempercepat akses Windows kamu dengan membersihkansemua sampah-sampah di dalam registry kamu.
PCMAV - Program antivirus buatan PC Media ini terbukti sangat ampuh untuk menghapus virus-virus Indo yang kadang-kadang suka rese.
AVG 8 Free Edition - Program antivirus gratis yang sangat powerful untuk mengatasi virus dari luar negeri.
Software ini Process Explorer... sama seperti CProcess. Tiap proses diberi warna tertentu supaya mudah dalam mendeteksi dan membedakan antar proses. Tidak perlu diinstall, bisa langsung jalan.
Langganan:
Postingan (Atom)







