Katagori : Status Facebook dari teman
Manusia seringkali berlaku egois. Ketika menginginkan rindu sesuatu, ia
berdoa habis-habisan dan berupaya sungguh-sungguh demi tercapainya
segala yang dirindukan. Tatkala berhasil, serta merta ia pun melupakan Allah.
Bahkan ia menganggap bahwa keberhasilan itu adalah hasil jerih payah dirinya sendiri.
Sebaliknya, bila kegagalan menimpa, ia sering kecewa karenanya.
Terkadang ia berburuk sangka kepada Allah dan menimpakan kekecewaannya
itu kepada siapa saja yang dianggap biang penyebab kegagalan tersebut.
Padahal, rasa kecewa, sedih, dan kesal itu lahir karena manusia terlalu berharap bahwa kehendak Allah harus selalu cocok dengan keinginannya.
Jelas dari kedua sikap tersebut ada sesuatu yang terlewatkan. Yaitu sikap sabar, tawakal, dan syukur nikmat.
Karenanya, beruntunglah orang yang memiliki sikap sabar ketika musibah
datang menimpa dan memiliki syukur ketika keberuntungan datang menerpa.
Sabar, menurut Dzunnun Al-Mishry, adalah menjauhkan diri dari hal-hal
yang bertentangan dengan agama dan bersikap tenang manakala terkena
musibah, serta berlapang dada dalam kefakiran di tengah-tengah medan
kehidupan. Atau, seperti kata Al-Junaid,
"Engkau menelan suatu kepahitan tanpa mengerutkan muka"
.
Adapun syukur, adalah tindakan memuji si pemberi nikmat atas kebaikan yang telah dilakukannya.
Seseorang dikatakan bersyukur kepada Allah, apabila ia mengakui nikmat
itu di dalam batinnya, lalu membicarakannya dengan lisan, serta
menjadikan karunia nikmat itu sebagai ladang ketaatan kepada-Nya.
Pada
hakikatnya syukur itu merupakan perwujudan sikap sabar ketika manusia
mendapat nikmat.
Mengapa kita harus bersabar ketika mendapatkan
nikmat?
Karena, karunia nikmat itu justru akan menggelincirkan manusia
ke dalam kekhilafan dan memperturutkan hawa nafsu.
Betapa banyak orang yang mampu bersabar ketika diberikan ujian, tapi tak mampu bersabar ketika diberi kenikmatan.
Lalu seberapa mampukah kita merasakan nikmatnya sabar?
Syahdan, di masa Rasulullah SAW, sebuah ujian menimpa Ummu Sulaim.
Suatu hari anaknya meninggal dunia, padahal suaminya sedang bepergian.
Ummu Sulaim berusaha agar kematian anaknya itu tidak diketahui dengan
tiba- tiba oleh sang suami sedatangnya dari perjalanan nanti.
Ia pun mempersiapkan hidangan untuk menyambut kedatangan suaminya.
Ketika sang suami datang, ia pun segera menyantap hidangan yang telah dipersiapkan dengan lahapnya.
"Bagaimana keadaan anak kita sekarang?" tanya suaminya.
"Alhamdulillah, sejak sakitnya itu tidak pernah setenang malam ini," jawab Ummu Sulaim.
Sementara itu, Ummu Sulaim menghias diri dengan memakai pakaian terindah yang dimilikinya, agar sang suami timbul hasratnya.
Tak lama setelah sang suami menggauli dan memuaskan hajatnya, Ummu Sulaim mulai bertanya,
"Apakah Kanda tidak merasa heran dengan tetangga-tetangga kita itu?"
"Mengapa mereka?" tanya suaminya.
"Mereka itu diberi pinjaman, tetapi setelah diminta kembali, tiba-tiba mereka menyatakan
kedukacitaan yang luar biasa," jawab Ummu Suliam.
"Buruk sekali kelakukan
mereka itu," ujar suaminya.
Ketika itulah ia memberitahukan apa
sebenarnya yang terjadi terhadap anaknya.
"Kanda," ujarnya. "Bukankah
anak kita itu hanya pinjaman dari Allah?
dan kini Allah telah
memanggilnya kembali".
Setelah mendengar perkataan istrinya
tersebut, sang suami pun sadar akan apa yang terjadi.
"Alhamdulillah,
inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun," ujarnya penuh ketabahan.
Keesokan harinya, pagi-pagi benar suaminya pergi ke tempat Rasulullah SAW dan memberitahukan kejadian tersebut.
Rasul pun berdoa untuk keluarga itu,
"Ya Allah, berilah keberkahan untuk kedua suami istri itu pada malam harinya tadi".
Dalam kisah lain diceritakan bagaimana sedihnya Nabi Ya’kub ketika
mendengar anaknya, Yusuf meninggal, hingga dikisahkan bagaimana matanya
menjadi putih (QS. Yusuf: 84). Dan kesedihan itu semakin bertambah
ketika anaknya yang lain Bunyamin ditahan pemerintah Mesir.
Namun, apa yang dikatakan Nabi Ya’kub ketika itu?
"Fa shabrun jamiil" (QS. Yusuf: 83). Sabar itu indah!
Jadi, kemampuan merasakan nikmatnya sabar terletak pada seberapa besar
mutu pengakuan akan adanya takdir dan kemahakuasaan Allah SWT.
Seseorang
bisa sabar - seperti yang dilakukan Ummu Sulaim dan suaminya - bila ia
mampu meyakini bahwa semua yang terjadi karena izin Allah dan meyakini
bahwa Allah tidak akan mendzalimi hamba-Nya.
Sa’ad bin Jubair
memberikan contoh tentang seorang budak belian yang dipukul dengan
cambuk.
Namun sikap budak tersebut seolah-olah mencerminkan makna
firman-Nya, Inna lillahi Sesungguhnya kami hanya milik Allah semata.
Jadi, ia mengakui bahwa dirinya adalah kepunyaan Allah yang bebas
dipergunakan dan diapakan saja oleh Allah.
Sedangkan harapannya akan
pahala dikarenakn musibah tersebut seakan merupakan makna dari
firman-Nya, Wa inna ilaihi raaji’uun Dan kepada-Nya kita kembali.
Oleh karena itu, tidak mengherankan ketika Abu Bakar As-Siddiq jatuh sakit, dan para sahabat yang menjenguknya bertanya,
"Saudaraku, tidakkah sebaiknya kami panggilkan saja tabib?
". Abu Bakar menjawab, "Sudah, tabib sudah memeriksaku".
"Apa yang dikatakannya?
" tanya mereka. Abu Bakar menjawab, "Dia katakan, "Aku Maha Berbuat terhadap : yang Aku kehendaki "
.
Dengan demikian, syarat mutlak orang bisa bersabar adalah ketika
ditimpa sesuatu, pikirannya langsung tertuju hanya kepada Allah SWT.
Inilah kunci terpenting yang harus dimiliki siapa saja yang ingin
menjadi ahli sabar. Karena itu, keindahan dan keluhuran pribadi
seseorang dapat dilihat dari sejauh mana ia pandai bersabar.
Semakin
seseorang mampu bersabar, niscaya akan semakin indah pula akhlaknya.
Jaminan Allah pun demikian luar biasa bagi ahli sabar.
"Sesungguhnya
hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa
batas!" (QS. Az- Zumar:10).
"Dan berikanlah kabar gembira pada
orang-orang yang sabar, yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata,
"Inna lillaahi wa inna ilahi raaji’uun". Mereka itulah orang-orang yang
mendapat
rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk". (QS. Al-Baqarah:155-157)
8 Februari 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar