Pages

Subscribe:

.

10 Maret 2013

Novel Mahkota Cinta 11

Sebuah Novelet Pembangun Jiwa oleh Habiburrahman El Shirazy ( I love original kawanimut )
 

Waktu terus berjalan, menghasilkan pergantian jam.
Menghasilkan siang dan malam. Menghasilkan sejarah
kehidupan dan kematian. Sejarah orang-orang yang gagal
dan sejarah orang-orang yang berhasil. Sejarah orang-orang
yang malang dan sejarah orang-orang yang beruntung.
Waktu terus berjalan. Setiap detik selalu ada
perubahan. Ya, waktu terus berjalan tanpa henti.

Zul termenung di kamarnya memikirkan waktu
yang ia lalui dan perubahan-perubahan yang ia alami.
Alangkah cepat waktu berjalan. Dan alangkah cepat
umur berkurang. Ia merasa seperti baru kemarin ia lulus
SD, terus SMP, terus SMA. Kenangan-kenangan saat di
SMA terbayang di depan mata. Ia seolah ada di dalamnya.
Perubahan terasa sangat cepat. Ia menyadari bahwa ia
ternyata sudah dua tahun lebih di Malaysia. Ia sudah
selesai S.2.

Sepertinya baru kemarin ia masuk flat itu diantar oleh
Pak Rusli. Lalu berkenalan dengan Sugeng, Yahya, Arif,
Rizal dan Pak Muslim. Sekarang mereka sudah tidak ada
lagi di flat itu bersamanya. Sugeng sudah selesai setengah
tahun yang lalu dan kini mengajar di STAIN Kendari.
Yahya sedang menempuh program Ph.D., ia kini tinggal
di Sigambut bersama isterinya. Arif sudah selesai
masternya dan kini bekerja di sebuah Bank Syariah di
Semarang. Rizal juga sudah selesai, ia mendirikan
penerbitan di Bandung. Pak Muslim sudah menyelesaikan
doktornya dan telah kembali mengajar di UNY.

Orang yang dulu satu rumah dengannya telah
meninggalkannya. Kini ia tinggal bersama adik-adik
yang lebih muda yang baru datang. Tak terasa. Ia sudah
mulai merasa semakin tua. Umurnya sudah mendekati
kepala tiga. Sugeng, Yahya, Arif dan Rizal semuanya
sudah berkeluarga. Hanya dirinya yang belum. Semua
sudah mengamalkan dan membagi ilmunya. Hanya ia
seorang yang ia rasa belum. Ia masih saja seperti dulu.
Bekerja di cafe dan restoran. Ia masih memikirkan
tentang nasibnya yang ia rasa belum mengalami
perubahan. Ia gelisah. Akan ia bawa ke mana gelar M.Ed.nya?

Apakah hanya untuk memperpanjang namanya
saja. Biar tampak ada gelar di belakangnya?

Hari itu jam tiga siang ia merasa harus silaturrahmi
ke rumah Yahya. Ia ingin mendiskusikan kegelisahannya.
Ia harus mengakui terkadang ia merasa sangat jauh dari
dewasa. Ia merasa belum bisa berpikir tenang dan jauh
ke depan seperti Yahya. Ia juga sering bertanya pada
dirinya sendiri apakah kegelisahannya seperti itu
termasuk tanda-tanda tidak menyukuri nikmat Tuhan?

Bukankah Tuhan telah banyak merubah dirinya. Dari
orang jalanan yang terbuang dari kota ke kota menjadi
orang yang hidup tenang. Dari orang yang pernah nyaris
binasa karena dibelenggu oleh syahwat cinta menjadi
orang yang merdeka.

Ketika ia sampai di rumah Yahya ia langsung
menyampaikan kegelisahannya. Yahya menjawab,
"Bersabar dan bersyukurlah Saudaraku. Jangan
tergesa-gesa. Tetaplah sabar dan istiqamah dalam
berusaha. Syukurilah apa pun karunia yang dilimpahkan
oleh Allah. Jangan kau mendikte Allah. Jangan kau
berprasangka buruk pada Allah. Allah-lah yang
Mahatahu yang terbaik untuk kita. Apa yang menurut
kita baik belum tentu baik menurut Allah. Dan apa yang
menurut kita tidak baik belum tentu tidak baik menurut
Allah. Apa yang kita sukai belum tentu itu baik bagi kita.
Dan apa yang kita benci belum tentu tidak baik bagi
kita.

"Bisa jadi, sampai saat ini kau masih bekerja di cafe,
karena itu memang yang terbaik. Bisa jadi setelah itu
akan ada hikmah yang luar biasa bagimu. Yang paling
penting bersabar dan bersyukurlah. Optimislah. Dan
berprasangka baiklah kepada Allah."

Zul merenungkan perkataan sahabatnya itu.

Yahya mempersilakannya untuk mencicipi agar-agar
buatan isterinya. Zul mengambil satu dan memuji,

"Agar-agarnya enak."

Spontan Yahya menjawab, "Makanya segera
menikah, biar ada yang membuatkan agar-agar."

"Kalau kau ada calon untukku boleh Ya. Aku merasa
sudah tiba saatnya. Orang satu rumah kita dulu sudah
menikah semua. Hanya aku saja yang belum."

"Kau serius Zul."

"Serius."

"Kalau orang Malaysia bagaimana?"

"Kalau salehah kenapa tidak?"

"Ini serius lho Zul."

"Ya pasti seriuslah Ya. Masak aku main-main."

"Baik. Ini ada calon. Orangnya baik. Aku berani
jamin. Dulu dia teman isteriku waktu kuliah di
Birmingham. Dia Muslimah yang taat. Tidak pernah
menanggalkan jilbab. Bagaimana?"

"Boleh saja. Cuma aku kuatir kalau aku mau dan
dianya tidak mau."

"Bagaimana kalau sebaliknya. Ternyata dianya mau
malah kau yang tidak mau."

"Kayaknya itu kemungkinan kecil Zul. Kalau kau
sudah berani menjamin baik, masak sih aku tidak mau.
Siapa namanya kalau boleh tahu?"

"Laila Abdurrahman."

"Kau mau ta'aruf serius dengannya Zul."

"Wualah tho Ya, Yahya. Berapa kali lagi kau akan
tanya tentang keseriusanku. Baiklah, aku serius Ya."

"Kalau begitu kau besok datanglah ke masjid kampus
UKM Bangi jam 3 sore. Kau akan aku temukan
dengannya insya Allah."

"Baik."
* * *

Hari berikutnya Zul berangkat ke Bangi naik KTM
dari Pantai Dalam sampai UKM lalu naik bus mini
kuning ke masjid kampus UKM. Yahya ternyata sudah
menunggu di masjid. Begitu ia sampai ia langsung diajak
ke Fakulti Ekonomi. Ia dibawa ke auditorium. Di sana
ada seminar membahas dua judul proposal disertasi
doktor. Dua orang mahasiswa program doktor dari
Malaysia mempresentasikan judul proposal disertasi
mereka di hadapan dosen dan guru besar.

Zul dan Yahya duduk agak depan samping. Satu per
satu kandidat doktor itu mempresentasikan kajiannya.
Ada empat profesor yang menilai dan mengkritisi. Di
antara empat profesor itu ada profesor madya perempuan
yang tampak masih muda dan cantik. Dialah yang
menjadi artis di ruangan itu. Zul diam-diam tersihir oleh
keanggunan dan kecerdasan profesor itu.

"Ya, perempuan Malaysia ada yang hebat juga ya.
Itu yang di depan itu. Masih muda sudah profesor madya.
Canggih betul."

" Kau tahu itu siapa?"

"Siapa Ya?"

"Itulah orang yang akan aku kenalkan denganmu."

Zul kaget bagai disambar petir.

"Weh, yang benar donk. Kau jangan bercanda.
Masak jauh-jauh datang kemari hanya untuk bercanda?"

"Aku tidak bercanda Zul. Aku serius. Dia itu namanya
Prof. Madya Datin Laila Abdul Majid, Ph.D. Dia
menyelesaikan S.2 dan S.3-nya di Birmingham. Satu
kelas dengan isteriku saat S.2. Hanya saja isteriku pulang
ke Indonesia setelah selesai S.2-nya, sedangkan dia
langsung lanjut S.3. Kata isteriku, ketika di Birmingham
dia termasuk mahasiswi yang disanjung banyak dosen
karena kecerdasannya. Itulah kelebihan yang dia miliki.
Bagaimana Zul, mau dilanjutkan apa tidak? Terus terang
aku tidak bilang apa-apa padanya. Kalau mau nanti kita
datangi dia dan kita ngobrol santai saja. Bagaimana?"

"Lanjut Ya."

"Okay, kau juga harus tahu kekurangannya, kalau
ini dibilang kekurangan, dia itu sudah janda. Sudah
pernah mau punya anak tapi keguguran. Dia janda
karena suaminya meninggal dunia. Bagaimana Zul?
Dilanjutkan apa tidak?"

Zul berpikir sejenak. Lalu menjawab,

"Dilanjutkan."

"Baik." Jawab Yahya sambil tersenyum.

Setelah seminar selesai Yahya bangkit. Isteri Yahya
ternyata juga ada di ruangan itu. Isteri Yahya menyalami
Prof. Datin Laila. Keduanya berangkulan mesra. Lalu
Yahya menyapa seraya memperkenalkan Zul. Mereka
berempat lalu berbincang-bincang sambil berdiri
beberapa saat. Prof. Darin Laila sangat ramah dan murah
senyum. Zul terpesona dengan aura kemelayuannya.
Mereka berbincang tidak lama, sebab waktu shalat
Ashar tiba. Prof. Datin Laila minta diri ke ruangannya.

Yahya dan isterinya serta Zul bergegas ke masjid dengan
mobil Yahya. Di perjalanan isteri Yahya menjelaskan
bahwa Laila adalah teman akrabnya saat di Birmingham.
Beberapa bulan lalu Laila meminta padanya
kalau punya calon yang sesuai untuknya. Orang
Indonesia tidak apa-apa. Hari itu Zul seperti mimpi. la
seperti tidak percaya kalau calon yang dikenalkan
dengannya adalah seorang Datin Laila yang ia rasakan
lebih dari seorang bidadari.

"Tapi Datin Laila belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu
kalau ada orang Indonesia yang melihatnya dan berniat
ta'aruf dengannya. Besok baru aku akan jelaskan
padanya. Apa kira-kira reaksi dan tanggapan dia. Semoga
seperti yang kita harapkan. Kalau melihat suami dia
dahulu juga dari kalangan orang biasa. Bukan dari
kalangan bangsawan," kata isteri Yahya.
"Insya Allah, kalau ini jodohmu tidak akan lari ke
mana-mana Zul." Sambung Yahya.
Zul mengamini dalam hari berharap semoga surga
itu telah ia rasakan di dunia.

Setelah shalat Ashar mereka pulang meninggalkan
kampus UKM. Yahya dan isterinya membawa mobil. Zul
naik bus kuning. Yahya menawarkan padanya untuk
satu mobil, tapi Zul ingin berkunjung ke rumah seorang
kenalannya bernama Ardan di Hentian Kajang.

Zul naik bus mini kuning ke Hentian Kajang.

Ongkosnya cuma tujuh puluh sen. Sepuluh menit
kemudian bus itu sudah sampai di Hentian Kajang. Zul
berjalan ke kanan menuju tempat duduk para penumpang.

Ketika ia melewati tempat itu, sekonyong-konyong
ada seorang wanita berjilbab yang memanggilnya dengan
keras.

"Zul!

***

BERSAMBUNG

0 komentar:

Posting Komentar