Sebuah Novelet Pembangun Jiwa oleh Habiburrahman El Shirazy ( I love Original kawanimut )
"Zul! Mas Zul!"
Ia menghentikan langkah dan menoleh ke arah suara.
Seorang wanita berjilbab dengan wajah gembira
melangkah ke arahnya. Ia mengamati dengan seksama,
mencoba mengingat-ingat.
"Lupa ya sama saya? Pasti lupa?" kata wanita itu
sambil tersenyum.
"Siapa ya? Agak lupa-lupa, ingat," jawab Zul.
"Sudah terlalu sibuk dan sudah lama sekali tidak
bertemu jadi kau lupa. Sangat wajar. Apalagi penampilan
saya dulu dengan sekarang berbeda. Pasti kau susah
menerka."
"Aduh langsung saja. Siapa ya?" katanya sambil
melihat jam. Ia memang tidak punya waktu terlalu
longgar untuk hal yang kurang penting.
"Baik Mas. Saya Sumi Mas. Saya Sumiyati. Kita dulu
ketemu di Subang Jaya. Ingat? Saya dulu tidak jilbaban
seperti sekarang."
Seketika Zul terkaget dan langsung tersenyum
bahagia.
"O Mbak Sumi. Ya Allah, saya benar-benar susah
mengingat-ingat tadi. Saya sepertinya pernah bertemu.
Tapi di mana saya tak ada bayangan. Iya Mbak benarbenar
beda setelah pakai Jilbab. Tambah anggun."
Sumi tersenyum mendengar pujian.
"Alhamdulillah Mas. Saya bahagia berjalan dalam
hidayah ini."
"O ya Mbak cerita teman-teman yang lain bagaimana
ya? Saya pernah ke sana ternyata kalian sudah
tidak di sana?" Zul pura-pura bertanya tidak tahu. la
tidak bisa melupakan berita koran tentang penangkapan
penghuni rumah itu.
"Mas belum tahu beritanya ya?"
"Berita yang mana?"
"Ah baiklah. Aku ceritakan biar nanti kalau suatu saat
Mas dengar berita itu tidak salah faham. Begini Mas.
Kami pergi tepatnya terusir dari rumah itu ada sebabnya.
Sebabnya adalah ulah Linda dan Watik yang keterlaluan.
Maksiatnya sudah terang-terangan. Aku yakin kau tahu
apa pekerjaan Linda. Melacurkan diri. Biasanya ia
dijemput dan berbuat maksiat itu di hotel. Kami
mengingatkan tidak mempan. Mbak Mari sering
bertengkar dengannya. Apalagi setelah kejadian Mbak
Mari mau diperkosa sama mantan suaminya. Mbak Mari
curiga Lindalah yang memberitahu keberadaan dirinya
pada mantan suaminya. Linda semakin nekat seolah
menantang penghuni rumah yang lain. Ia maksiat di
kamarnya. Beberapa teman lelaki Linda datang ke
rumah. Hal itu dicium oleh masyarakat. Akhirnya rumah
itu digrebek. Kami semua dianggap pelacur semua.
Padahal pelacurnya cuma Linda sama Watik. Kami
diinterogasi habis-habisan. Kami difoto dan masuk koran.
Yang paling sabar dan tabah menghadapi ujian ini adalah
Mbak Mari. Mbak Mari berusaha sekuat tenaga berdialog
dan menjelaskan bahwa tidak semua yang ditangkap
adalah pelacur. Akhirnya Mbak Mari bisa menelpon
seorang kenalannya. la anak seorang pejabat penting.
Dengan jaminan temannya Mbak Mari, kami, selain
Linda dan Watik dibebaskan. Sejak itu saya memakai
jilbab. Saya ingin lebih berarti menjalani hidup ini. Begitu
ceritanya Mas."
Zul mengucapkan syukur berkali-kali dalam hati
mendengar penjelasan itu. la merasa berdosa telah
berprasangka buruk pada semua penghuni rumah,
termasuk pada Mari dan Sumi. Sekarang ia tahu Mari
bersih. Ia jadi tidak sabar untuk menanyakan keberadaan
Mari. Walau bagaimanapun nama itu pernah tertanam
dalam hatinya.
"Lha Mbak Mari sekarang di mana?"
"Dia sudah di Indonesia."
"Ada alamarnya?"
"Sayang tidak ada. Buku catatanku yang ada alamat
dan kontak Mbak Mari hilang di bus. Mungkin jatuh.
Saya dengar dia sekarang hidup di Semarang. Dan dia juga sudah berjilbab lho"
"Mmm di Semarang. Dia sudah menikah?"
"Saya juga tidak tahu. Tapi dia pernah ngobrol
dengan saya. Maaf lho Mas Zul ya kalau tidak berkenan.
Ia pernah cerita kalau dia diam-diam suka sama Mas
Zul."
Seperti ada setetes embun membasahi hatinya. Wajah
Mari hadir dalam pikirannya. Kenangan lama perlahan
muncul ke permukaan. Tapi cepat-cepat ia tepis kuatkuat.
Ia tidak boleh menghadirkan kenangan itu. Ia telah
siap berta'aruf dengan Datin Laila.
"Maaf Mas bus saya sudah datang, saya harus pergi.
Say a sekarang tinggal di sekitar sini. Mari Mas. Sukses
ya." Sumi minta diri.
Zul terpaku di tempatnya beberapa saat lamanya.
Kemudian ia teringat hari sudah sore. Ia harus sudah ada
di Pantai Dalam sebelum Maghrib. Keinginannya untuk
menemui Ardan terpaksa ia urungkan. Ia langsung
bergegas mencari bus ke KL Sentral. Dari KL Sentral ia
akan nyambung dengan KTM.
* * *
Hari berikutnya, pagi-pagi sekali Yahya datang ke
Pantai Dalam. Yahya menyampaikan hasil komunikasi
antara isterinya dan Datin Laila. Zul tidak sabar
menunggu berita gembira itu.
"Bagaimana, sesuai harapan?" tanya Zul.
"Pada dasarnya Datin Laila menerima dan tidak
masalah...." jawab Yahya tenang.
"Alhamdulillah," potong Zul.
"E dengarkan dulu sampai aku selesai bicara!"
"O masih ada lanjutannya tho. Apa lanjutannya?"
"Ya pada dasarnya Datin Laila menerima dan tidak
ada masalah. Yang jadi masalah adalah kakak sulungnya,
yang sekarang jadi walinya telah membawa seorang
calon untuknya. Datin Laila belum mengambil keputusan.
Tapi agaknya Datin Laila merasa berat jika harus
berseberangan dengan kakak sulungnya."
"Artinya ia cenderung mengiyakan calon dari
kakaknya kan?"
"Begitulah.".
Zul menunduk kecewa.
"Kenapa dalam masalah seperti ini aku selalu menuai
kecewa ya. Dulu mau serius menikahi Mari tak jadi. Apa
ya dosaku ini?"
"Lha mulai berprasangka tidak baik pada Yang
Mahakuasa! Sabarlah Zul. Selain membawa kabar
menyedihkan itu aku juga membawa kabar menggembirakan
untukmu."
'Apa itu Ya?"
"Aku kemarin dibel Pak Muslim. Di UNY ada
lowongan dosen. Yang dicari S.2 jurusan Psikologi
Pendidikan dan jurusan Sosiologi Pendidikan. Ini
mungkin rejekimu. Coba kau masukkan lamaran ke
sana."
"Wah boleh ini Ya." Zul semangat.
"Caranya bagaimana Ya?"
"Sebaiknya kau pulang ke Indonesia. Masukkan
langsung lamaranmu ke UNY. Sekalian bersilaturrahmi
ke rumah Pak Muslim. Siapa tahu Pak Muslim juga
mencarikan jodoh untukmu. Mahasiswinya yang jilbaberjilbaber
kan banyak."
"Wah saranmu brilian sekali Ya. Dunia ini sejatinya
luas ya Ya. Wanita di dunia ini pun miliaran jumlahnya.
Tidak cuma Mari atau Laila ya."
"Lha iya lah."
"Kenapa aku baru menyadarinya sekarang ya."
"Karena kamu selalu menyempitkan ruang berpikirmu
selama ini Zul. Cobalah kau buka lebar-lebar.
Hidup ini akan terasa mudah, menyenangkan, dan
menggairahkan."
"Ya sudah saatnya aku meluaskan ruang hati dan
pikiran Ya."
"Di antara caranya adalah dengan selalu berprasangka
baik kepada Allah."
"Terima kasih Ya. Bisa bantu aku lagi?"
"Apaitu?"
"Pinjami uang untuk beli tiket pesawat," kata Zul
tersenyum.
"Tentu bisa."
"Kau memang sebaik-baik teman Ya."
"Kau juga Zul"
"Alhamdulillah."
BERSAMBUNG
10 Maret 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar