Pages

Subscribe:

.

11 Maret 2013

Novel Mahkota Cinta 13

Sebuah Novelet Pembangun Jiwa oleh Habiburrahman El Shirazy ( I love original kawanimut )

Tiga hari kemudian Zul terbang ke Yogyakarta. Di
Bandara Adi Sucipto ia dijemput oleh Pak Muslim. Begitu
bertemu mereka berangkulan erat sekali. Pak Muslim
tampak bahagia sekali bertemu dengan Zul, begitu juga
Zul. Kesahajaan dan kesederhanaan Pak Muslim sama
sekali tidak berubah, meskipun ia telah menyandang
gelar doktor. Ia berpakaian biasa, layaknya orang biasa.
Orang yang tidak mengenal Pak Muslim bisa jadi
menyangka beliau adalah tukang ojek. Sebab saat itu
beliau memakai batik warna tua yang tersembunyi
dalam jaket cokelat yang tampak tua. Warnanya telah
berubah karena terkena panas dan hujan.

Pak Muslim menjemput dengan mobil Katana
tuanya. Beliau langsung membawa Zul ke rumahnya di
sebuah perumahan di daerah Maguwoharjo.

"Rumah ini masih menyewa Zul," kata Pak Muslim
begitu sampai di rumahnya. "Doakan tahun depan ada
rejeki untuk membeli rumah. Meskipun dengan
mengangsur," lanjutnya.

"Semoga Pak."

"Ayo masuk. Kita cuma berdua di rumah ini. Isteriku
sedang tugas ke Semarang. Dua anakku sedang di rumah
eyangnya di Solo."

Begitu masuk Pak Muslim langsung ke dapur
membuatkan minuman.

"Adanya ini Zul." Kata Pak Muslim sambil membawa dua gelas
berisi air sirup berwarna hijau.

"Nyaman hidup di Jogja Pak ya?" tanya Zul.

"Nyaman dan tidaknya hidup itu yang mengkondisikan adalah
Hati dan pikiran kok Zul. Kalau aku
di mana saja merasa nyaman. Aku tak pernah kuatir atau
takut sebab aku yakin Allah mengasihiku."

"O ya Pak tentang lowongan itu. Ada berapa kursi?
Kira-kira yang daftar banyak tidak?"

"Cuma enam kursi saja. Secara keseluruhan, yang
daftar mungkin puluhan, ratusan, bahkan mungkin
ribuan. Saya tidak tahu persis. Tentang peluangmu, ya
yakin saja ini adalah rejekimu. Tapi untuk Sosiologi
Pendidikan, saya lihat yang daftar sampai kemarin
belum terlalu banyak, kira-kira baru belasan orang.
Peluangmu mungkin bagus. Apalagi hanya kau yang
meraih M.Ed, dari luar negeri."

"Doanya Pak."

"Semoga. Syarat-syarat sudah lengkap semua?"

"Yang belum foto Pak."

"Nanti foto kilat saja. Supaya besok berkas kamu bisa
dimasukkan."

"Iya Pak."

"O iya Zul. Kamu tidak ada rencana nikah? Atau
masih mengharap yang di Subang Jaya?"

"Aduh jadi malu. Jangan diingat-ingat Pak. Tapi
penggerebekan di Subang Jaya seperti yang tertulis di
koran itu ternyata tidak seperti itu lho Pak. Saya jadi
merasa berdosa karena berburuk sangka pada semua isi
rumah itu."

"Terus sebenarnya bagaimana?"

Zul lalu menceritakan pertemuannya dengan Sumi
di Hentian Kajang. Dengan detil dan panjang lebar Zul
menjelaskan apa yang ia dapat dari Sumi. Pak Muslim
mengangguk-angguk.

"Hmm saya juga berburuk sangka lho Zul. Jika tidak
kauberitahu mungkin selamanya dalam pikiran saya
yang ada ya persepsi itu. Persepsi satu rumah itu pelacur
semua. Kan kasihan mereka yang tidak berdosa. Ini jadi
pelajaran penting bagiku Zul. Kabar apa pun saat ini, di
akhir zaman ini harus dicek. Berita saat ini sepertinya
kok lebih banyak bohongnya, lebih banyak munafiknya
daripada jujurnya."

"Ya alhamdulillah, Allah mempertemukan saya
dengan Sumi Pak."

"Terus tentang nikah. Jadi setelah tahu kabar itu apa
masih mau mengejar si Siti Martini itu? Atau bagai
mana?"

"Aduh Pak itu masa lalu. Sudah biarlah berlalu Pak.
Dunia ini kan luas. Jumlah wanita di atas muka bumi ini
miliaran Pak. Gadis Muslimah yang belum menikah jumlahnya
jutaan Pak, kenapa saya mesti mempersusah diri."

"Wah kamu sudah berubah Zul. Tapi ada satu
sifatmu yang aku sangat salut. Dan aku berharap sifat
itu tidak pernah berubah apalagi hilang dari dirimu."

"Apa itu Pak?"

"Jujur dan tidak mengada-ada. Itu yang aku suka
padamu. Jujur itulah sifat yang mutlak harus dimiliki
seorang pendidik di negeri ini. Karena kejujuran sekarang
ini jadi barang yang sangat langka Zul."

"Doakan saya bisa terus istiqamah Pak."

"Semoga Zul. O ya kembali tentang nikah. Muslimah seperti
Apa yang sekarang kauinginkan. Mungkin
aku bisa membantu. Tidak hanya membantumu tapi juga
membantu kaum Muslimah yang ingin menikah tapi
belum menemukan jodoh. Siapa tahu di antara mereka
ada yang sesuai untukmu."

"Yang salehah dan jujur Pak. Ah Pak Muslim kan
sudah pernah tinggal bersama saya lebih dari satu tahun.
Pasti Pak Muslim tahu yang cocok buat saya."

"Ini Zul. Ada Muslimah baik sekali. Ini menurut isteri
saya. Sebab Muslimah ini kenal baik dengan isteri saya.
Pernah satu kampus di Bandung dulu. Dia sokarang kalau
tidak salah dosen di Universitas Semarang. Baru
menyelesaikan Master Ekonominya di UKM Malaysia."

"Umurnya berapa?"

"Ya seumuran isteri saya."

"Kalau seumuran isteri Bapak, berarti sudah tua
dongPak."

"Ei jangan salah. Kau tahu berapa umur isteri Baya?"

"Berapa Pak?"

"Dua puluh delapan tahun. Kau umurmu berapa?"

"Dua Delapan."

"Berarti malah seumuran kan sama kamu.
Bagaimana?"

"Boleh Pak."

"Kalau boleh tahu. Dia berjilbab Pak?"

"Kamu ini Zul. Isteri saya ini aktivis dakwah, masak
mau mencarikan kamu yang suka tabarruj. Ya pasti
berjilbab rapat-lah Zul."

"Kalau begitu boleh Pak. Boleh tahu namanya Pak?"

"Namanya agak panjang Zul. Tapi seingat saya
depannya Agustina. Isteri saya kalau memanggil dia
Mbak Agustin begitu. Tapi nama penanya kalau dia nulis
di koran Asma Maulida, M.Ec. Sebentar aku cari koran
dulu. Ada beberapa tulisan dia yang bagus kok."

Pak Muslim beranjak menuju rak tempat majalah
dan koran tertumpuk. la mengolak-alik beberapa koran
sesaat lamanya.

"Lha ini dia." Seru Pak Muslim gembira.

"Ini Zul tulisan dia coba kaubaca." Pak Muslim
menyodorkan koran itu pada Zul.

Zul membaca dengan seksama. Runtut, rapi dan
argumentatif. Bahasanya enak dibaca.

"Baguskan?"

"lya Pak?"

"Rapi dan runtut kan?"

"Iya."

"Itulah cermin kepribadiannya. Saya pernah
bertemu dengannya. Saya salut. Sangat berkarakter
orangnya. Kira-kira bagaimana Zul?"

"Saya manut Pak Muslim saja."

"Baik. Mumpung isteri saya ada di Semarang. Biar
dia urus sekalian. Saya telpon isteri saya sekarang saja."

Pak Muslim mengeluarkan hand phone-nya dan
memanggil isterinya. Langsung nyambung.
Zul hanya mendengar suara Pak Muslim:

"O jadi malah sedang bincang-bincang sama dia?"

"Di mana Dik, di Warung Bentuman?"

"Dia belum ada calon kan?"

"Ini, temanku satu rumah yang pernah kuceritakan
dulu itu lho Dik."

"Ya, sudah selesai M.Ed dari Universiti Malaya."

"Namanya Ahmad Zulhadi Jaelani. Tulis saja A.
Zulhadi Jaelani, M.Ed."

Lalu Pak Muslim menarik hand phone-nya dari
telinga kanannya dan bertanya pada Zul.

"Zul, tanggal lahirmu berapa?"

"21 April 1985 Pak." Jawab Zul.

Pak Muslim lalu menyampaikan hal itu pada
isterinya. Tak lama kemudian beliau menyudahi
pembicaraannya. Lalu kembali berbicara pada Zul.

"Namanya juga ikhtiar. Ya semoga saja ini berhasil."

"Jadi Agustin itu masih belum punya calon Pak?"

"Ya kata isteri saya begitu. Dia berharap proses kali
ini adalah prosesnya yang terakhir. Proses yang
mengantarkannya memiliki rumah tangga yang
mawaddah wa rahmah."

"Amin. O ya Pak, terus terang saja Pak ya. Bapak
ada foto dia?"

"Wah sayang tidak punya Zul. Tapi jangan kuatir
Zul. Kata isteri saya, biar prosesnya cepat. Artinya kalau
iya ya biar segera diijab kalau tidak ya biar cepat
ketahuan tidaknya, Agustin akan ikut isteri saya ke Jogja."

"Mau datang ke sini?"

"Iya. Biar bertemu kamu. Kamu juga biar tidak
penasaran. Biar itu tadi cepat jelasnya kalau iya ya biar
segera diijab kalau tidak ya biar cepatketahuan tidaknya.
Kalau misalnya tidak jadi, karena kau tidak cocok kan
sama-sama cepat tahunya. Dan bisa mencari yang lain
yang cocok. Kalian kan sudah berumur. Tidak perlu
ditunda-tunda atau proses yang rumit dan berbelit-belit
tho?'

"Iya Pak sepakat."

* * *
Rumah Pak Muslim memiliki tiga kamar. Kamar
utama, kamar tamu dan kamar anak. Zul ditempatkan
di kamar tamu yang sekaligus merangkap sebagai
perpustakaan. Kamar itu penuh buku. Kebanyakan
buku-buku tentang pendidikan dan ekonomi. Pak
Muslim adalah pakar manajemen pendidikan. Sementara
isterinya adalah dosen mata kuliah ekonomi di sebuah
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di Yogyakarta.

Siang itu setelah selesai memasukkan berkasnya ke
UNY ia diantar Pak Muslim pulang. Ia memang harus
istirahat. Sebab sebelumnya ia begadang bersama Pak
Muslim di sebuah warung angkring sampai larut malam.
Pak Muslim sendiri juga istirahat di kamarnya. Ia telah
diberi ijin oleh Pak Muslim kalau mau membaca-baca
koleksi perpustakaan pribadinya.

Siang itu ia tidak langsung tidur. Tapi ia melihat-lihat
buku yang ada di kamar itu. Banyak judul-judul baru
terbitan Indonesia. Ia senang dengan perkembangan
penerbitan buku di Indonesia yang semakin marak. Tibatiba
kedua matanya tertuju pada warna sampul sebuah
buku yang sepertinya pernah ia lihat. Ia ambil buku
itu.Buku bersampul biru tua. Terbitan Oxford University
Press. Judulnya Game Theory with Applications to
Economics. Rasa-rasanya ia pernah memegang buku itu.

Ia mencoba mengetes ingatannya. Di mana ia pernah
memegang buku seperti itu. Ia mengingat-ingat tempattempat
ia bisa mengambil dan membaca buku. Akhirnya
ia ingat di kamar Mari di Subang Jaya, saat ia pertama
kali tiba di Malaysia. Ia tersenyum bahagia ingatannya
masih tajam.

Ia buka buku itu. Halaman pertama. Dan ia bagai
tersengat listrik. Nama pemilik buku itu dan tanda
tangannya sama dengan yang ia baca di Subang Jaya:
Laila Binti Abdul Majid, TTDL Kuala Lumpur. Pikirannya
langsung nyambung ke Prof. Datin Laila Abdul Majid.
Diakah pemilik buku ini? Dan ia yakin buku yang ada
di tangannya adalah buku yang beberapa tahun lalu ia
pegang di Subang Jaya. Lalu bagaimana buku itu bisa
sampai di rumah ini? Puluhan kemungkinan dan
pertanyaan berkelebat dalam pikirannya. Ia tak mau
pusing. Ia merasa lelah dan harus istirahat. Masalah buku
itu bisa ia tanyakan pad a Pak Muslim nanti.
Lima belas menit sebelum azan Ashar berkumandang
ia telah bangun. Pak Muslim telah duduk dengan pakaian
rapi siap ke masjid di ruang tamu.

"Bagaimana istirahatnya? Enak?"

" Alhamdulillah. Sudah segar kembali Pak."

"Berarti sudah siap bertemu Agustin ya?"

"Jadi malam ini Pak?"

"Lhaiyalah?"

"Cepatsekali."

"Kenapa berlambat-lambat jika bisa cepat."

"Di mana akan ketemu Pak."

"Di sini. Nanti habis Maghrib aku akan jempul
mereka di Pertigaan Janti. Mereka naik bus Ramayana.
Setelah shalat Isya kita ad akan majelis ta'aruf di sini."

Hati Zul bergetar hebat. Ia tidak pernah menyangka
akan sangat cepat proses untuk bertemu dengan calon
isterinya. Pak Muslim meneguk air putih yang ada di
hadapannya. Zul kembali ke kamarnya untuk bersiap
dan merapikan pakaiannya. la kembali keluar dari
kamarnya sambil membawa buku bersampul biru tua
itu.

"Dari mana dapat buku bagus ini Pak?" tanya Zul.
Hatinya penasaran.

Pak Muslim mengulurkan tangannya. Zul memberikan
buku itu pada Pak Muslim. Sesaat lamanya Pak
Muslim mengamati buku itu.

"Isteri saya yang bawa."

"Dari mana dia dapat?"

"Saya tak tahu pasti Zul. Nanti malam saja kita
tanyakan."

* * *
Usai shalat Maghrib Pak Muslim meluncur ke
Pertigaan Janti dengan Katana tuanya. Zul memilih
iktikaf di masjid sampai Isya. Sebelum azan Isya
berkumandang Pak Muslim sudah tiba di masjid dan
memberitahu Zul bahwa Agustin sudah ada di rumah.

"Jadi nanti pertemuannya alami saja Zul. Kita pulang
dari shalat dan mereka sudah menunggu di ruang tamu.
Kita langsung ngobrol dan bincang-bincang santai saja?"

"Saya cuma pakai sarung saja begini Pak?"

"Lha memangnya kenapa? Kalau pakai sarung apa
terus hilang ketampananmu?"

"Nggak sih Pak. Nggak apa-apa."

"Agustin sekarang aku lihat agak berubah."
"Berubah bagaimana?"

"Jadi lebih muda dan segar. Dulu waktu pertama kali
bertemu bersama isteri di Semarang, ia kurus, agak sayu
dan tampak lebih tua dari umurnya."

"Kalau begitu bagus lah Pak."

"Ya, rejekimu Zul kalau kau punya isteri yang semakin
tambah umur tapi wajahnya semakin tambah muda."

"Amin ya Rabb."

Azan Isya dikumandangkan. Jamaah berdatangan.
Shalat sunnah didirikan. Lalu iqamat disuarakan. Shaf-shaf
dirapikan. Dan sang Imam mengucapkan takbiratul
ihram. Zul mengikuti takbir Imam dengan hati bergetar.

Shalat jamaah didirikan dengan penuh kekhusyukan.
Dalam sujud Zul berdoa agar dilimpahi kebaikan dunia
dan akhirat, serta diberi pasangan hidup yang menjadi
penyejuk hati, teman sejati dalam mengarungi hidup
beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.

Selesai shalat Pak Muslim dan Zul melangkah pasti
ke rumah. Semakin dekat dengan rumah hati Zul
semakin bergetar hebat. Ia akan bertemu dengan Agustin.

Yang dalam bayangannya akan menyejukkan hatinya.
Zul sampai di halaman. Pak Muslim melangkah duluan.
Dari halaman ia bisa melihat dari terawang sela-sela
gorden, ada dua Muslimah berjilbab yang sedang
berbincang di ruang tamu. Namun tidak jelas. Jantungnya
semakin keras berdegup. Ia berusaha menguasai
dirinya, dan menenangkan batinnya.

Pak Muslim sudah mengucapkan salam. Dua
Muslimah itu menjawab bersamaan. Zul mencopot
sandalnya. Pandangannya menunduk ke lantai. Pak
Muslim masuk. la mengikuti di belakang. la memandang
ke depan. Dan...
Pandangannya bertatapan dengan pandangan
seorang perempuan berwajah bersih, wajah yang dibalut
jilbab merah muda. Wajah yang pernah ia kenal. Mata
yang pernah ia kenal. Dan...



BERSAMBUNG

0 komentar:

Posting Komentar