Pages

Subscribe:

.

11 Maret 2013

Novel Mahkota Cinta 14 Tamat

Sebuah Novelet Pembangun Jiwa oleh Habiburrahman El Shirazy ( I love original kawanimut )

"Z...zul!" Dari bibir perempuan itu tersebut namanya
Ia berdiri mematung di tempatnya. Hatinya sesak
oleh keharuan luar biasa. Hawa dingin seolah menyebar
ke seluruh syarafnya. Tak terasa airmatanya meleleh.
Lidahnya kelu.

Perempuan berwajah bersih itu adalah Mari.

"Ja..j.adi ternyata kau Zul!"

Zul tidak bisa bersuara. Ia hanya mengangguk
dengan airmata berderai.

"Yang dimaksud temannya Pak Muslim ini kau
Zul?"

Zul kembali mengangguk.

"Ini tidak mimpi kan?!" seru Mari.

"Ti...tidak Mari. Tidak! Ini kenyataan!" Zul buka
suara dengan tangis yang pecah. Begitu mendengar
kalimat yang keluar dari mulut Zul, Pak Muslim
langsung mengerti. Beliau meneteskan airmata. Hanya
isteri Pak Muslim yang masih bingung.

"Jadi kalian sudah saling kenal?" tanya isteri Pak
Muslim heran.

Zul dan Mari menjawab serentak: "I ya!"

Pak Muslim menyuruh Zul duduk Mari tak kuasa
membendung tangisnya. Isteri Pak Muslim belum
mengerti apa yang terjadi. Pak Muslim lalu menceritakan
apa yang terjadi pada Zul saat jatuh cinta pada Mari
"Zul bilang namanya Siti Martini." kata Pak Muslim.
Mari menyela "Benar, nama saya memang Siti
Martini. Itu nama kecil saya."

Pak Muslim lalu melanjutkan kisahnya Bagaimana
Zul nyaris gila dan binasa. Sampai akhirnya ia
memanggil Zul dan memberinya tiga saran atau tiga opsi.
Lalu Zul memilih opsi yang kedua, yaitu memilih
menikahi Mari. Ia dan Zul pergi ke Subang Jaya dan
mendapati rumah telah kosong. Seorang perempuan
Melayu memberi tahu kalau Mari dan kawan-kawan
digrebeg karena dianggap bertindak asusila.

"Saat itu aku lihat Zul sangat terpukul. Aku masih
ingat bagaimana ia seolah tidak bisa percaya atas apa yang
dibacanya. Ia berteriak histeris 'Tidak mungkin! Tidak
mungkin ini terjadi!' Aku melihat bagaimana ia membaca
lagi nama inisial Siti M di koran itu dengan hati hancur.
Dengar nada putus asa Zul saat itu mengatakan, 'Sia-sia
aku menolongnya. Sia-sia aku mencintainya.''

Mendengar cerita Pak Muslim, tangis Mari menjadijadi.
Perempuan berjilbab itu jadi tahu betapa Zul
sebenarnya sangat mencintainya. Bahkan sampai sakit
karena mencintainya. Dan sampai datang bersama Pak
Muslim untuk mencintainya.

Mari lalu berbicara dengan suara terbata-bata.

Menceritakan bagaimana dia sebenarnya sangat berharap
Zul datang. Ia lalu menceritakan kejadian pemerkosaan
atas dirinya dan bagaimana Zul menolongnya. Sejak itu
ia merasa bahwa orang paling berhak menerima
pengabdiannya adalah Zul. Mari juga mengakui ia
berubah total cara hidupnya karena pesan Zul untuk terus
mendekatkan diri kepada Allah. Pak Muslim dan isterinya,
ikut terharu mendengar kisah mereka berdua.

"Subhanallah. Allah tidak mempertemukan di
Subang Jaya Malaysia, tapi Allah mempertemukan di
Indonesia dalam kondisi yang lebih baik, yang lebih
barakah. Insya Allah." Kata Pak Muslim dengan
berlinang airmata.

"Jadi tak perlu ada ta'aruf ini?" tanya isteri Pak
Muslim.

Pertanyaan itu malah dijawab dengan derai airmata
oleh Mari.

Semuanya kemudian diam. Masing-masing menyelami
perasaan dan pikirannya sendiri-sendiri.

Keheningan tercipta sesaat lamanya. Zul teringatbuku
bersampul biru tua. Ia beranjak ke kamar dan mengambilnya.

"Kalau boleh tahu bagaimana cerita buku ini. Buku
ini rasanya pernah aku baca di Subang Jaya. Kok
sekarang ada di sini?" kata Zul.

Mari dan isteri Pak Muslim berpandangan. Mari
merasa lebih berhak menjawab,

"Itu buku milik Prof. Datin Laila Abdul Majid. Dosen
sekaligus sahabatku. Saat kaubaca di kamarku di Subang
Jaya, saat itu aku masih kuliah semester tiga. Aku kuliah
di UKM mengambil part time. Sambil kerja."

Zul mengangguk. la langsung bertanya,
"Kenapa waktu kenalan dulu kau tidak menyebutkan
dirimu mahasiswi? Kenapa malah mengenalkan
sebagai pekerja?"

Mari mendesah lalu menjawab,

"Untuk apa aku menonjol-nonjolkan kuliahku. Aku
toh sama sekali tidak bohong. Aku memang bekerja. Dan
terus terang karena aku beranggapan pada waktu itu
sedang kenalan dengan orang yang mencari kerja.
Dengan calon pekerja. Bukankah dulu yang kautanyakan
padaku adalah informasi tentang pekerjaan.

Dan kau juga, kenapa kau tidak pernah bercerita kalau
kau adalah mahasiswa di UM?"

Zul diam sesaat, lalu ia berkata lirih, "Jawabannya
kira-kira sama denganmu."

Pak Muslim dan isterinya tersenyum.

"Oh ya saya masih bingung. Namamu itu yang
benar siapa tho? Zul memperkenalkan dengan nama Siti
Martini. Dia biasa menyebut Mari. Tapi kau mengatakan
pada isteriku dengan nama Agustina. Isteriku kalau
memanggilmu Agustin. Di koran kau pakai nama Asma
Maulida? Banyak nama samaran ya?"

Mari menata tempat duduknya dan menjawab,
"Baiklah saya jelaskan. Semuanya benar. Artinya
semua itu memang nama saya. Saya lahir dengan nama
Siti Martini, waktu kelas enam SD, ibu guru membolehkan
mengganti nama yang dirasa kurang cantik
untuk ditulis di ijazah. Ini agak lucu, tapi memang nyata.

Teman saya namanya Sungatemi, biasa dipanggil Ngat,
atau Ngatmi ia ganti jadi Salsabila Ayu Ratnasari. la lalu
minta dipanggil Ratna. Ada yang namanya Sukodor, ia
ganti jadi Anang Febrian, karena lahir di bulan Februari.
Saya bingung. Nama saya Siti Martini, biasa dipanggil
Mar. Saya ikut-ikutan teman-teman, saya minta ibu guru
membuatkan nama saya yang cantik dan panjang. Ibu
guru membuatkan nama Agustina Siti Mariana Maulida.

Karena saya lahir di bulan Agustus. Untuk nama pena
sekarang ini saya sering menggunakan nama Asma
Maulida. Asma kepanjangan dari Agustina Siti Mariana.
Kepada kolega saya sekarang lebih mantap mengenalkan
sebagai Asma. Anggap saja Asma juga nama hijrah saya.
Tapi sebenarnya tetaplah nama asli saya. Kepada teman
di Bandung saya memperkenalkan diri Agustin. Dan
kepada para pekerja di Malaysia sama memperkenalkan
diri sebagai Mar, Mari atau Siti Martini."

"O begitu. Jadi lengkapnya Agustina Siti Mariana
Maulida, M.Ec?"

"Iya begitu."


***

Malam itu adalah malam yang sangat bersejarah dan
membahagiakan bagi Zul dan Mari. Mereka sepakat
untuk menikah secepatnya.

Dan dua minggu setelah itu mereka mengikrarkan akad nikah di Sragen. Di desa
kelahiran Mari. Selanjutnya mereka hidup bersama
dalam kesucian. Dan beribadah bersama, saling
mendukung dan menguatkan, sujud bersama dalam
bingkai mahkota cinta yang terbangun indah di atas
mahligai iman dan takwa.



TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar